Senin, 15 Okt 2018 10:40 WIB

Pergeseran Bullying versi Digital, Bagaimana Cara Batasi Anak?

Hilda Meilisa Rinanda - detikHealth
Bullying kini bergeser ke versi digital (Foto: Thinkstock) Bullying kini bergeser ke versi digital (Foto: Thinkstock)
Surabaya - Bullying memang bukan fenomena baru di masyarakat, namun kini metodenya mulai bergeser. Mulai dari yang awalnya face to face menjadi lebih digital.

Kini, banyak ditemui bullying melalui dunia digital, misalnya saja lewat postingan hingga kolom komentar di media sosial. Bullying di medsos pun juga memiliki pengaruh yang cukup besar untuk orang yang dibully. Terlebih, di medsos, potensi untuk dilihat lebih banyak orang juga sangat tinggi.

"Jadi dengan era sekarang apalagi perubahan yang digital semua bullying yang awalnya itu dilakukan Face to Face, ini kan bukan fenomena baru remaja mengalami bullying, cuma karena sekarang itu digital, yang baca itu ndak cuma satu orang, bisa banyak sekali yang tahu," ujar salah satu psikolog dari Himpunan Psikolog (Himpsi) Jatim Atikah Dian Ariana di Surabaya, Senin (15/10/2018).

Dari hal ini, potensi metode bullying juga rentan dilakukan oleh pelaku lain. Misalnya saja satu pelaku membully satu korban di media sosial, karena medsos memiliki pengunjung yang banyak, bisa bermunculan pelaku lain yang akan meniru cara pelaku dalam membully.

"Tapi karena yang baca banyak, viewernya banyak, viewer mengcopy juga dari orang lain sebuah sistem bullying," imbuhnya.

Atikah menambahkan hal ini sering dialami remaja dan anak-anak. Dia menyebut sekitar 80% perilaku bullying dirasakan remaja.

"Bullying memang lebih banyak dirasakan oleh remaja, angka pastinya tidak dapat dikatakan, tapi kalau saya boleh estimasi bisa saja 80% itu anak dan remaja sisanya baru usia yang lain," lanjutnya.

Lantas, bagaimana cara untuk membatasi hal ini pada anak-anak hingga remaja?

"Yang pertama kita harus berpikir untuk lebih bijak menggunakan media sosial, perlu diajarkan kepada anak bagaimana untuk menghormati orang lain," pesan psikolog dari Universitas Airlangga ini.



Atikah memaparkan tujuan seseorang dalam berinteraksi justru untuk membentuk identitas. Misalnya dia berkomentar, akan terlihat bagaimana identitas seseorang bisa dikenali.

Namun, kebanyakan remaja tak memahami jika komentar juga mencerminkan perilaku diri. Untuk itu, orang tua juga penting menyampaikan agar lebih menjaga diri dalam berkomentar.

"Sebenarnya ketika kita berinteraksi itu kan tujuannya kita untuk membentuk identitas, saya ini orangnya seperti ini, makanya saya berkomentar seperti ini. Nah terutama anak dan remaja, kurang paham bahwa identitas itu juga dibentuk ketika kita menyampaikan komentar-komentar kepada orang lain. Apalagi ketika itu dilakukan pada media sosial secara otomatis aja seperti itu," paparnya.

Tak hanya itu, sejak dini anak harus diajari bagaimana menghormati orang lain, baik sesama atau orang yang lebih tua. Dengan belajar ini, anak akan memahami bagaiamana cara memposisikan diri, juga mengerti jika ingin diperlakukan baik harus baik pula, dan begitu sebaliknya.

"Dengan anak lebih belajar menghormati orang lain, dia juga akan lebih tahu bagaimana memposisikan diri. Kalau dia menjadi orang itu jadi paling tidak ada mutual, bagaimana dia paham bagaimana dia ingin diperlakukan. Nah ini dia tidak akan melakukan hal yang sama," kata Atikah.





Tonton juga 'Kisah Menyentuh Remaja yang Di-bully karena Penyakit Langka':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed