Rabu, 31 Okt 2018 10:01 WIB

Curhat Para Pejuang 'PJKA': Pergi Karena Kerja Pulang Karena Cinta

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Banyak karyawan harus menjalani ritual mudik tiap akhir pekan demi berkumpul dengan keluarga (Ilustrasi: Rifkianto Nugroho)
Jakarta - Kerja jauh dari keluarga memang berat. Demi melepas rindu dengan keluarga, terpaksa menjalani ritual mudik tiap akhir pekan dengan menempuh perjalanan jauh, mahal dan berisiko. Populer dengan istilah 'PJKA', Pulang Jumat Kembali Ahad (Minggu).

Salah satunya dialami oleh pembaca detikHealth, Andri Trinanto, yang bekerja di Singapura. Biasanya, ia berangkat ke Singapura tiap Senin dengan penerbangan pagi, yakni Lion Air pukul 6.10 WIB. Ada pilihan lebih pagi, tetapi harganya 'minta ampun'.

"Biasanya saat check in, saya minta kursi paling depan, agar bisa keluar pesawat lebih cepat dan bisa sampai rumah/kantor lebih cepat," kata Andri melalui email kepada detikHealth.

Ada ritual yang selalu dilakukan Andri setiap kali menempuh perjalanan jauh tersebut. Begitu masuk kabin, ia mengirim foto boarding pass ke istri dengan pesan 'sudah duduk, tunggu 1,5 jam lagi nanti dikabari'. Lalu HP dimatikan.

Demikian juga setelah sampai, Andri segera keluar pintu pesawat dan memberikan kabar, "Alhamdulillah, sudah sampai."


Suasana Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.Mahalnya harga tiket, lamanya waktu tempuh, tingginya risiko di perjalanan, tak sebanding dengan waktu untuk keluarga. Foto: Rengga Sancaya


Lain lagi dengan Febi Ari Wicaksono, seorang staf IT (Information Technology) yang bekerja di Biak, Papua. Sebulan sekali, ia menempuh penerbangan 6-7 jam untuk berkumpul dengan istri dan anaknya yang usia 2,8 tahun, yang tinggal di Jakarta.
Saya sadar waktu untuk keluarga itu sangat mahal dan tak tergantikan dengan uang. Waktu tak bisa diputar, sedangkan saya selalu ingin dekat dengan anak di masa kecilnyaFebi Ari Wicaksono - Pejuang 'PJKA' Jakarta-Papua

Jelas, bukan perjalanan yang mudah apalagi murah. Ia menyebut, sekali jalan harus merogoh kocek Rp 4-6 juta. Pun, pilihan waktu juga tidak banyak. Untuk pulang ke Papua, hanya ada penerbangan pukul 21.00 dan sampai di Biak pukul 06.00 keesokan harinya.

"Saya sadar waktu untuk keluarga itu sangat mahal dan tak tergantikan dengan uang. Waktu tak bisa diputar, sedangkan saya selalu ingin dekat dengan anak di masa kecilnya," kata Febi, menjelaskan motivasinya bertahun-tahun menjalani 'PJKA'.

Tak jarang, harus menghadapi macet berjam-jam di tol bila menempuh jalur darat.Tak jarang, harus menghadapi macet berjam-jam di tol bila menempuh jalur darat. Foto: Ilustrasi macet Tol Cikampek malam hari (Zaki Alfarabi)



Tonton juga 'Apa Ciri-ciri Pertemanan Sehat?':

[Gambas:Video 20detik]


Selain soal mahal dan melelahkan, risiko dalam perjalanan juga menjadi catatan tersendiri bagi para pejuang 'PJKA'. Ratio, seorang karyawan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang mengaku sudah menyandang status 'PJKA' selama 8 tahun karena berpindah-pindah tempat kerja.

Pengalaman buruk pernah dialaminya ketika harus pulang pergi tiap akhir pekan antara Jakarta-Yogyakarta. Pada 16 Mei 2009 sekitar pukul 03.00 WIB, Kereta Senja Utama Jogja yang ditumpanginya bertabrakan dengan truk semen di persimpangan Sumpiuh. Seorang penjaga palang pintu meninggal dalam kecelakaan tersebut.

"Alhamdulillah saya tidak mengalami cedera apapun. Kejadian seperti ini tidak mempengaruhi intensitas PJKA seperti saya, meskipun sadar kemungkinan terjadi kembali akan selalu ada," kisahnya.

Beruntung, Ratio kini sudah berhenti menjalani ritual 'PJKA'. Sejak akhir 2015, ia sudah berkumpul kembali dengan istri dan anak yang diboyongnya ke Jakarta.
Kejadian seperti ini (kecelakaan maut) tidak mempengaruhi intensitas PJKA seperti saya, meskipun sadar kemungkinan terjadi kembali akan selalu adaRatio - Pejuang 'PJKA' Jakarta-Yogyakarta

(up/frp)