Sabtu, 03 Nov 2018 19:35 WIB

Dekompresi di Laut dan Udara Mana yang Lebih Bahaya?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Syachrul Anto penyelam BASARNAS yang tewas karena dekompresi. Foto: Syachrul Anto (dua dari kanan). (Dok Indonesia Rescue Diver Team) Syachrul Anto penyelam BASARNAS yang tewas karena dekompresi. Foto: Syachrul Anto (dua dari kanan). (Dok Indonesia Rescue Diver Team)
Jakarta - Penyelam Syachrul Anto meninggal akibat dekompresi pada Sabtu (3/11/2018). Penyelam BASARNAS ini naik cepat dalam usaha pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Tak hanya di laut, dekompresi bisa terjadi di udara dan lokasi mana pun asal ada penurunan tekanan. Dekompresi di udara terjadi saat ketinggian pesawat turun secara mendadak atau perlahan.

"Dekompresi di laut harus diperhatikan, karena nitrogen tidak bisa keluar tanpa penanganan. Sedangkan efek dekompresi di udara biasanya hilang sendiri saat sudah di darat," kata Kasubdis Faskes Diskesal Kolonel Laut dr Mozart SpB dari RS TNI AL Mintohardjo pada detikHealth.


Penumpang yang mengalami dekompresi di udara bisa membuka saluran di tubuhnya untuk beradaptasi. Misal menguap, mengisap permen, atau menelan ludah kuat-kuat. Hal ini tidak bisa dilakukan penyelam di laut yang terbungkus perlengkapan selam.

Dengan kondisi ini, dr Mozart mengingatkan penyelam untuk naik perlahan usai bertugas. Setiap lima meter diusahakan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar. Hal ini memungkinkan nitrogen dalam tubuh telah habis saat mencapai permukaan.

Efek dekompresi kadang tidak langsung muncul usai menyelam. Penyelam biasanya merasakan efek dekompresi pegal atau kesemutan. Penyelam sebaiknya segera minta pertolongan supaya bisa kembali bertugas.

(Rosmha Widiyani/up)