Rabu, 07 Nov 2018 18:51 WIB

Tiap Tahun 1 Juta WNI Umrah ke Arab Saudi, RI Waspadai Meningitis dan MERS CoV

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Indonesia mewaspadai meningitis dan Mers Cov.Foto: Istimewa Indonesia mewaspadai meningitis dan Mers Cov.Foto: Istimewa
Jakarta - Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam menjadikan kegiatan ibadah Umrah rutin dilaksanakan. Karena itu, terdapat ancaman penyakit berbahaya yang terus diantisipasi oleh pemerintah seperti meningitis dan MERSCOV dengan potensi penularan dan risiko kematian sangat tinggi.

"Jumlah 221 ribu untuk haji ditambah umrah 1 juta orang di setiap tahun, memiliki potensi adanya proses penularan penyakit atau penyakit-penyakit yang terbawa dari Saudi ke Indonesia," tutur Kepala Pusat Kesehatan Haji, Kemenkes RI, Eka Jusup Singka, saat dijumpai di sela-sela acara Global Health Security Agenda (GHSA) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Rabu (7/11/2018).

Eka menambahkan bahwa kegiatan berangkat ke Arab Saudi untuk pelaksanaan umrah tidak sama dengan haji. Ibadah haji waktu dan keberangkatan sudah jelas di hari-hari Arafah, berbeda dengan pelaksanaan umrah yang keberangkatannya bisa setiap hari.

"Umrah itu 7 hari, pulang. 9 hari, pulang. Tapi jangan salah bukan berarti singkat itu kemudian enggak ada yang sakit, ada yang sakit. Saat ini pun kita dapat data berapa yang di rawat. Ada 6 orang jamaah umrah kita yang dirawat di RS Arab Saudi, ini yang harus kita perhatikan itu mengenai umrah, tetap dia wajib divaksin," tambahnya.


Potensi penularan penyakit saat ibadah umrah tinggi karena pada saat itu berkumpulnya manusia yang datang dari penjuru dunia. Baik dari Afrika, dan negara lain yang berpotensi membawa penyakit dari negaranya masing-masing.

"Baik haji maupun umrah sebenarnya Indonesia memiliki risiko setiap hari, karena tiap hari ada pulang juga. Umrah itu pulang tiap hari. Karena tiap hari ada pulang dibuat sistem cegah tanggap KKP atau kantor kesehatan pelabuhan yang bisa menjaga Indonesia dari ancaman penyakit menular," pungkasnya.

(Khadijah Nur Azizah/up)