Kamis, 08 Nov 2018 20:07 WIB

Penjelasan Ilmiah di Balik 'Diam' Korban Pemerkosaan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi pemerkosaan. Foto: Edi Wahyono Ilustrasi pemerkosaan. Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Seringkali kita jumpai pengakuan dari seorang korban pemerkosaan yang mengatakan hanya mampu 'diam' atau 'tidak bisa bergerak' saat diperkosa. dr Jiemi Ardian, seorang dokter dan juga residen (calon dokter spesialis) psikiatri menyebut tak hanya pada perkosaan namun perempuan yang berada di pinggir jalan lalu diremas payudaranya juga bisa mengalami fenomena tersebut.

Dalam cuitannya di Twitter, dr Jiemi menyebut fenomena tersebut dengan tonic immobility. Ia menjelaskan bahwa adanya rasa takut yang sangat ekstrem sehingga menimbulkan mekanisme pertahanan diri, berupa ketidakmampuan tubuh bergerak sampai ancaman bahaya berlalu.

'Diam'nya korban pemerkosaan ia tegaskan bukan karena menikmati atau ketidakmampuan korban untuk melawan. Biasanya tonic immobility terjadi pada hewan. Pada manusia, fenomena ini sering terjadi saat pelecehan seksual atau pemerkosaan, atau bahkan pada saat mengalami ketakutan yang sangat ekstrem hingga tubuh seperti 'mematung'.



Sebuah studi dari Karolinksa Institutet dan Stockholm South General Hospital di Swedia bisa mengakibatkan korban mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau depresi parah, demikian dilaporkan situs Independent. Sedangkan pada studi tahun 2017 pada wanita yang berkunjung pada klinik darurat pemerkosaan di Stockholm, 70 persen melaporkan mereka mengalami tonic immobility dan 48 persen mengalami versi ekstremnya.

"Dan ini adalah reaksi biologis tubuh, kita tidak bisa memilih untuk tidak demikian. Ketika rasa takut itu begitu memuncak, amygdala (salah satu bagian otak) membajak otak kita yang lain sehingga kita tidak bisa bergerak, namun tetap sadar penuh!" jelas dr Jiemi lagi dalam akun Twitternya, @jiemiardian, dikutip Kamis, (8/11/2018).

Amygdala pada otak berperan untuk memroses emosi dan juga gerak sebagian tubuh. Pada manusia dan hewan lainnya, amygdala juga terhubung baik dengan respon takut dan senang. Kondisi seperti kecemasan, depresi, PTSD dan fobia dicurigai terkait dengan fungsi abnormal amygdala, karena adanya kerusakan, masalah perkembangan atau ketidakseimbangan neurotransmitter.

"Bisa bayangkan betapa mengerikannya? Kamu ingat detil kejadian pemerkosaan itu tapi ga bisa bergerak. Jadi jelas ya, korban pemerkosaan yang diam itu bukan karna suka," pungkasnya.

(frp/up)
News Feed