Senin, 12 Nov 2018 18:11 WIB

Jika 'Cuci Otak' Dipermasalahkan Lagi, dr Terawan: Ya Biarin Saja

Widiya Wiyanti - detikHealth
Terapi 'cuci otak' dr Terawan yang jadi kontroversi. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth
Jakarta - Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad alias dr Terawan menyebut bahwa Kementerian Kesehatan RI sudah memberikan izin terhadap program medical tourism. Terapi 'cuci otak' dengan Digital Substraction Angiography (DSA) yang akan dilakukannya pada 1.000 warga negara Vietnam adalah untuk mendukung program tersebut.

"(Kemenkes) sebenarnya sudah (memberi izin), kalau tidak memberikan pasti ada surat keputusan untuk tidak boleh melakukan," ujarnya saat ditemui di Rumah Sakit Kepresidenan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2018).

Menurut dr Terawan, hal ini berkaitan dengan kompetensi radiologi intervensi. Yaitu sub-spesialisasi radiologi yang memanfaatkan prosedur minimal invasif untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit pada hampir semua organ tubuh.

"Ini masalah kompetensi, saya kebetulan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, ketua umumnya saya . Dan saya punya kolegium untuk PDSRI. Itulah yang mengatur kompetensi dan inilah kompetensi yang diakui merupakan kompetisi radiologi intervensi, bagian dari radiologi," jelas dr Terawan.


"Kalau kompetensi lain mau ngomong yang bagaimana, ya biarin saja. Ini adalah kompetensi radiologi. Kalau nggak percaya ya memang bukan ilmunya, ini adalah ilmu radiologi intervensi," lanjutnya.

dr Terawan berharap temuannya ini tidak dipermasalahkan lagi. Karena sudah banyak masyarakat, baik Indonesia maupun dunia yang melakukan terapi DSA ini.

"Terus yang dipermasalahkan apanya? Wong seluruh dunia ikut ke sini, ya kita mempermalukan diri sendirilah," katanya.

Ia menyebut selain dari Indonesia, pasiennya berasal dari belahan benua lain, seperti Amerika dan Eropa. Masyarakat dari beberapa negara Asia, seperti Korea, Jepang, dan Cina pun pernah menjadi pasiennya untuk terapi 'cuci otak' ini.

(wdw/up)