Kamis, 15 Nov 2018 16:16 WIB

Benarkah Orang yang Religius Kebal Depresi? Belum Tentu, Ini Alasannya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kerohanian bisa membuat seseorang lebih terjaga dari ancaman depresi, tapi tidak kebal. (Foto: Istock) Kerohanian bisa membuat seseorang lebih terjaga dari ancaman depresi, tapi tidak kebal. (Foto: Istock)
Jakarta - Seringkali ketika seseorang mengalami depresi, banyak orang yang mengaitkan hal tersebut dengan tingkat keimanan seseorang. Benny Prawira dari komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light menjelaskan keterkaitan antara tingkat keimanan dan depresi.

"Dari hasil riset sebenarnya bukan tingkat religius individunya. Bukan karena imannya tinggi atau gimana tapi ke komunitas agamanya," katanya di agenda Physical Activity dan Mental Health di Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia, Depok, Kamis (15/11/2018).



Benny menambahkan, komunitas agama keberadaannya gampang ditemui di Indonesia. Sehingga orang yang cenderung lebih aktif di komunitas agama akan mengalami tingkat depresi yang rendah.

"Itu cukup menarik, karena di komunitas ada rasa kepemilikan akan melindungi kita dari ancaman depresi," tambahnya.

Selain itu, penting bagi institusi agama untuk membantu anggota mereka yang mengalami masalah kesehatan jiwa untuk mendatangi psikiater atau konseling.
"Jadi penting sekali untuk meningkatkan peran institusi agama kita supaya lebih mendengarkan teman yang depresi. Nggak sekedar bilang bahwa 'kamu tuh kurang beriman' harusnya membantu untuk mencari bantuan ke konseling atau psikiater," tutupnya.

(up/up)
News Feed