Minggu, 18 Nov 2018 17:59 WIB

Bagaimana Syok Bisa Membuat Kondisi Kesehatan Baiq Nuril Memburuk?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Baiq Nuril, kondisi kesehatannya menurun menjelang pelaksanaan sanksi. Foto: Baiq Nuril di kediamannya (Hari-detik) Baiq Nuril, kondisi kesehatannya menurun menjelang pelaksanaan sanksi. Foto: Baiq Nuril di kediamannya (Hari-detik)
Jakarta - Mahkamah Agung memvonis Baiq Nuril dengan sanksi kurungan 6 bulan dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan penjara. Baiq dinilai bersalah terkait perekaman percakapan mesum mantan kepala sekolah SMAN 7 Mataram berinisial M.

Dikutip dari detikNews, Baiq mengalami syok dan penurunan kondisi kesehatan. Baiq rencananya akan dieksekusi Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram pada 21 November 2018 mendatang.


Kaget akibat menerima berita yang tak diharapkan memang bisa menurunkan kondisi kesehatan. Hal ini terungkap dalam jurnal Psychogenic Fever: How Psychological Stress Affects Body Temperature in The Clinical Population. Jurnal yang ditulis Takakazu Oka ini dipublikasikan di situs National Center for Biotechnology Information (NCBI) Amerika Serikat.

Riset ini menyimpulkan, kaget memicu stres hingga terjadi peningkatan suhu tubuh yang disebut psychogenic fever. Gangguan fisik terkait kesehatan mental yang disebut psychosomatic disease ini lebih sering terjadi pada perempuan usia muda.

Peningkatan suhu tubuh bergantung pada frekuensi dan intensitas paparan rasa kaget. Suhu tubuh bisa mencapai lebih dari 41 derajat Celcius, bila kaget sampai mengguncang keseimbangan emosi. Pada stres yang bersifat kronis, peningkatan suhu tubuh berkisar 37-38 derajat Celcius. Jurnal belum menjelaskan dengan detail mekanisme psychogenic fever pada tubuh manusia.

Oza yang merupakan peneliti dalam bidang psychosomatic medicine menjelaskan, psychogenic fever tak bisa ditangani dengan obat penurun demam biasa. Pasien harus mendapat terapi emosi dan kejiwaan supaya bisa menangani stres dengan baik. Kemampuan inilah yang bisa menurunkan suhu tubuh sehingga tak sampai mengganggu kehidupan setiap hari.

(Rosmha Widiyani/fds)