Kamis, 29 Nov 2018 12:05 WIB

Tren Penyakit Tidak Menular Meningkat, Menkes Dorong Promosi Kesehatan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Menkes Nila F Moeloek (Foto: Lamhot Aritonang) Menkes Nila F Moeloek (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Beban kesehatan pada saat ini menunjukkan adanya pergeseran tren dari penyakit menular menjadi meningkatnya penyakit tidak menular atau non-communicable diseases (NCD). Maka dari itu sangat penting jika pelayanan kesehatan diarahkan ke upaya-upaya promotif dan preventif, seperti lewat promosi kesehatan.

"Seorang tenaga kesehatan seringkali hanya berfokus pada mengobati. Dan saat sembuh bagi kita itu adalah hasil, jadi hanya memikirkan soal kuratif tapi tidak pernah melakukan edukasi atau promosi. Promosi kesehatan adalah proses yang memberdayakan masyarakat melalui kegiatan menginformasikan, mempengaruhi, membantu masyarakat agar berperan aktif untuk mendukung perubahan perilaku dan lingkungan serta menjaga meningkatkan kesehatan menuju kesehatan yang optimal," terang Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek pada acara Konferensi Nasional Promosi Kesehatan Rumah Sakit Ke-4 di Mercure Convention Centre Ancol, Jakarta Utara, Rabu (28/11/2018).

Nila menambahkan, hal inilah yang menjadi dasar dari penggagasan Permenkes No. 44 Tahun 2018 tentang penyelenggaran promosi kesehatan rumah sakit. Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan perorangan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan signifikan antara lain hipertensi dan diabetes mellitus serta angka perokok pada remaja, menilik pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Hipertensi tercatat pada angka 34,1 persen, sebelumnya pada Riskesdas 2013 prevalensinya 25,8 persen, diabetes mellitus naik menjadi 8,5 persen, sebelumnya 6,9 persen, dan juga angka perokok remaja tercatat 9,1 persen, naik tajam dibandingkan angka 7,2 persen pada 2013.



Ia mencontohkan bahwa promosi dan edukasi yang tepat bisa membantu dalam pencegahan penyakit apapun. Misalnya kalau kita tidak melakukan edukasi yang tepat kepada pasien yang mengidap diabetes, bisa jadi ke depan mereka berisiko amputasi atau gangren. Nila menyebut tak ada orang yang ingin dipotong kakinya lalu berakhir menjadi disabilitas dan tidak produktif.

Promosi kesehatan ini juga dimasukkan dalam akreditasi rumah sakit, sehingga akan dilakukan penilaian ada tidaknya edukasi pada pasien dan keluarganya. Maka rumah sakit tersebut dapat dimonitor dan dievaluasi agar dapat berjalan dengan baik termasuk promosi dan edukasi.

Tindakan promosi juga bisa dilakukan dengan mendukung perubahan perilaku serta penampilan rumah sakit agar lebih nyaman. Nila menyebut sebuah rumah sakit yang ramah dan santun, serta dibuat seperti tidak berada di rumah sakit yang berkesan menyeramkan atau serasa di rumah sendiri, bisa membantu dan juga meningkatkan efisiensi (dengan kesehatan yang meningkat tentunya memperpendek masa rawat pasien di rumah sakit pula).

"Kalau boleh saya katakan, sampai kiamat pun kita tetap harus melakukan edukasi atau promosi agar tidak terjadi suatu peningkatan penyakit. Sangat terlihat bahwa penyakit tidak menular meningkat luar biasa," tutupnya.

(frp/up)
News Feed