Jumat, 30 Nov 2018 18:01 WIB

110 Ribu Meninggal, WHO Menyoroti Kembalinya Penyakit Campak di Dunia

Firdaus Anwar - detikHealth
Di Indonesia sandiri cakupan imunisasi campak ada yang belum mencapai target. (Foto: Adhar Muttaqin) Di Indonesia sandiri cakupan imunisasi campak ada yang belum mencapai target. (Foto: Adhar Muttaqin)
Jakarta -
Data terbaru yang dikumpulkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kondisi mengkhawatirkan kembalinya penyakit campak. Disebutkan bahwa penyakit oleh virus ini kembali menyerang menimbulkan wabah di banyak tempat.

Setidaknya hampir semua negara di berbagai belahan dunia menunjukkan peningkatan kasus campak dalam kurun waktu 17 tahun terakhir. Khususnya pada tahun 2017 ada 30 persen peningkatan kasus dibandingkan tahun 2016 dengan jumlah kematian mencapai 110 ribu jiwa.

Salah satu peneliti untuk WHO dr Martin Friede penyebab global kembalinya campak adalah karena keraguan terhadap vaksinasi. Banyak kabar keliru tentang vaksin bermunculan dan ini memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat global sehingga ragu untuk memvaksinasi anaknya.
"Kemungkinan masalah keraguan ini paling parah terjadi di Eropa dibandingkan daerah lain. Pada beberapa kelompok keraguan didorong karena masalah kepercayaan, tapi di beberapa kelompok lain mereka ragu karena isu miring keamanan vaksin," ungkap dr Martin seperti dikutip dari BBC.

"Negara-negara yang sudah maju tidak boleh berpuas diri lupa kalau penyakit seperti ini bisa kembali layaknya badai. Tidak membutuhkan banyak anak antivaksin untuk hal itu terjadi, dan bila sudah terjadi campak tidak sekedar ruam tapi juga menimbulkan kebutaan dan kematian," lanjutnya.

Di Indonesia cakupan imunisasi vaksin campak-rubella (MR) juga masih ada yang belum mencapai target. Sebagai contoh salah satunya daerah Sulawesi Selatan (Sulsel) yang masih 75 persen populasi dengan targetnya 95 persen.
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menepis kalau penyebabnya adalah peredaran fatwa tentang menghindari vaksin karena dianggap haram.

"Pasti ada sebabnya, Sulsel tidak seperti ini. cuman kemarin ada fatwa yang sedikit menganggu dan itu sudah diralat dan setelah dilakukan penelitian secara mendalam ternyata itu tidak terbukti," kata Nurdin dalam acara Pencanangan Pekan Imunisasi MR Provinsi Sulsel, di Hotel Four Makassar, Jumat (30/11/2018).
(fds/up)