Jumat, 14 Des 2018 08:12 WIB

Merasakan Paniknya Jadi Penumpang 'Pesawat Jatuh', Kuncinya Tetap Tenang

Widiya Wiyanti - detikHealth
detikHealth berkesempatan menjajal simulasi penyelamatan pesawat jatuh di Lakespra (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth) detikHealth berkesempatan menjajal simulasi penyelamatan pesawat jatuh di Lakespra (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Jakarta - Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana rasanya menjadi penumpang pesawat yang jatuh ke dalam air, layaknya Lion Air JT 610 atau tragedi pesawat lainnya. Duh, menyeramkan pasti.

Saya berkesempatan untuk mencoba merasakan bagaimana menjadi penumpang pesawat yang jatuh ke dalam air dan berusaha untuk menyelamatkan diri keluar dari pesawat.

Simulasi ini dilakukan di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) Saryanto, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018). Dalam simulasi ini, ada tiga mode yang dilakukan. Yaitu pesawat yang jatuh terkontrol, semi terkontrol, dan tidak terkontrol.

Sebelum masuk ke dalam kolam air yang dalamnya sekitar 7-10 meter, semua penumpang harus mengenakan helm dan sepatu. Ketika masuk ke dalam air, para instruktur memberi perintah untuk menyelam selama 10 detik sebagai cara untuk adaptasi. Kemudian, saya diminta untuk memegang tali yang kemudian menyelam dengan tubuh berputar 360 derajat.

Untuk simulasi yang pertama, yaitu jatuh terkontrol. Pesawat dimasukkan ke dalam air secara tegak lurus. Dan kemudian penumpang diminta untuk menyelamatkan diri melalui pintu atau jendela.

Setiap penumpang didampingi satu instruktur yang memberi instruksi bagaimana caranya menyelamatkan diri di dalam air dan keluar dari pesawat. Saya mendapatkan tempat di sisi kanan dekat dengan jendela.



Sebelum pesawat dijatuhkan ke dalam air, seluruh penumpang harus bersikap brace position dengan seat belt terpasang erat. Simulasi yang pertama ini, kondisi jendela terbuka sehingga saya tidak perlu membukanya.
Ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Mendobraknya harus membutuhkan tenaga ekstra, sehingga yang terpikir di benak saya, "Apakah bisa membukanya di dalam air?"Widiya Wiyanti - Jurnalis detikHealth

Namun bukan berarti mudah lho. Setelah seluruh pesawat terendam air, saya harus menahan napas hingga lima detik. Kemudian tangan kanan memegang jendela bagian luar dan tangan kiri membuka seat belt, barulah saya keluar melalui jendela dengan posisi badan terlebih dahulu.

"Jangan kakinya duluan ya, karena malah menyusahkan," saran Eko, instruktur yang bertugas mengamankan saya.

Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


Meskipun sedikit menegangkan, namun saya berhasil keluar dari pesawat yang terendam tersebut dan kembali ke permukaan air.

Simulasi kedua pun dijalankan, yaitu jatuh semi terkontrol. Kali ini jatuh pesawat masih sama seperti sebelumnya, namun yang berbeda adalah jendela dan pintu pesawat ditutup. Sehingga para penumpang harus membukanya terlebih dahulu sebelum keluar dari pesawat.

Sebelumnya, saya mencoba mendobrak jendela yang berada di sisi kanan. Ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Mendobraknya harus membutuhkan tenaga ekstra, sehingga yang terpikir di benak saya, "Apakah bisa membukanya di dalam air?"

Perasaan takut mulai muncul. Namun Eko terus mengatakan bahwa kunci utama dari menyelamatkan diri adalah jangan panik.

Pesawat pun kembali diturunkan ke dalam air. Prosedur yang dijalankan tetap sama, hingga jendela harus saya dobrak dalam keadaan menahan napas. Beruntungnya bisa terbuka meskipun harus dua kali berusaha membukanya. Saya bisa kembali ke permukaan dengan selamat.


Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


Simulasi kedua selesai, saya dihadapkan pada simulasi ketiga yang lebih menegangkan, jatuh tidak terkontrol. Pesawat dijatuhkan ke dalam air kemudian diputar 180 derajat. Sehingga para penumpang tenggelam dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Namun, jendela dan pintu tidak ditutup.

Jantung pun serasa dag dig dug, namun harus tetap tenang. Prosedur pun masih sama, hingga akhirnya seluruh tubuh terendam air dan kemudian pesawat dibalikkan. Tidak terelakkan bahwa panik pun mulai menyerang, namun saya berusaha tetap fokus dengan membuka mata.

Air mulai masuk melalui hidung hingga sinus, dan kepala pun terasa pusing. Saya berusaha membuka seat belt dan tetap tenang. Akhirnya saya bisa membalikkan badan dan keluar melalui jendela menuju ke permukaan.

Setibanya di permukaan, semakin pusing dan kepala terasa berat. Namun, saya merasa cukup senang karena dapat berhasil menjalankan ketiga simulasi tersebut.

"Ini baru simulasi, bagaimana dengan kejadian yang nyata?" pertanyaan yang terlontar dari orang-orang yang mengikuti simulasi ini.

Maka dari itu, penting sekali simulasi ini diikuti oleh semua orang, terutama orang-orang yang kerap berlalu-lalang dengan menggunakan moda transportasi udara.

Apakah Healthy Friends tertarik untuk mencoba simulasi pesawat jatuh seperti ini?

Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth




Simak video 'Kapten Vincent: Jangan Takut Naik Pesawat!':

[Gambas:Video 20detik]

(wdw/up)