Senin, 07 Jan 2019 07:33 WIB

Ngibul Parah! Minta Foto Telanjang, Modusnya untuk 'Penelitian' Kedokteran

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Hati-hati menanggapi permintaan foto telanjang lewat ponsel (Foto: iStock) Hati-hati menanggapi permintaan foto telanjang lewat ponsel (Foto: iStock)
Jakarta - Di twitter, seorang netizen baru-baru ini membagikan pengalaman tidak menyenangkan. Seseorang yang mengaku mahasiswi kedokteran memintanya mengirim foto naked alias telanjang dengan alasan untuk penelitian.

Sepintas, permintaan itu cukup meyakinkan karena datang dari akun temannya yang memang kuliah kedokteran. Belakangan, akun tersebut ternyata dipalsukan dan teman yang dicatut namanya mengaku tidak mengirim permintaan foto naked tersebut.

Cerita ini cukup viral, banyak mendapat tanggapan. Beberapa netizen mengaku pernah mengalami hal yang sama, dan menganggapnya sebagai pengalaman yang 'creepy' alias menyeramkan.

Praktisi kesehatan yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Ari Fahrial Syam, SpPD mengatakan permintaan foto telanjang untuk keperluan penelitian mahasiswi kedokteran adalah hal yang mustahil, apalagi dilakukan secara online. Karenanya, ia mengimbau untuk tidak menanggapi permintaan semacam itu.

"Pada kasus ini agak susah mengerti melakukan research dengan melihat foto telanjang dan mustinya kita tidak mau mengikuti permintaan tersebut," katanya kepada detikHealth, Minggu (7/1/2019).

"Saat ini penelitian yang dilakukan dengan pemeriksaan harus melalui informed concern," tambahnya.


dr Ari menyarankan untuk berhati-hati bila ada permintaan yang tidak wajar. Penelitian untuk kedokteran tidak mungkin meminta foto bagian tubuh secara online.dr Ari menyarankan untuk berhati-hati bila ada permintaan yang tidak wajar. Penelitian untuk kedokteran tidak mungkin meminta foto bagian tubuh secara online. Foto: iStock


Informed consent artinya, seseorang yang dimintai data untuk penelitian harus mendapat penjelasan dengan sangat detail. Mulai dari tujuan penelitian, maupun konsekuensi atas pengambilan data tersebut. Karenanya, dr Ari menganggap permintaan foto bagian tubuh sulit dilakukan secara online.

"Betul kalau metodenya survey masih bisa tapi kalau sudah melihat bagian tubuh harus ada informed concern," jelas dr Ari.

Cerita yang nyaris sama juga pernah dialami seorang netizen perempuan lainnya, yang mendapat permintaan foto tidak wajar dari orang tak dikenal di media sosial. Orang tersebut memintanya mengirim foto kaki tampak wajah, dengan kata-kata yang terkesan mengiba dan agak memaksa. Beberapa orang mengaitkannya dengan perilaku foot fetish.

"Bisa jadi (foot fetish), tapi kan harus evaluasi konsultasi dulu baru bilang dia kena foot fetish," kata dr Heru Oentoeng, SpAnd, pakar seksologi dari RS Siloam Kebon Jeruk, saat dihubungi detikHealth beberapa waktu lalu.

Pernah menghadapi pengalaman 'creepy' semacam ini? Tulis di kolom komentar ya, atau kirim ke redaksi@detikhealth.com bila menghendaki identitas kamu dirahasiakan.

(up/frp)
News Feed