Sabtu, 12 Jan 2019 10:30 WIB

Dokter Ingatkan Risiko 'Jajan' Prostitusi, Mahal Bukan Jaminan Bebas Infeksi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ada anggapan bahwa tarif pekerja seks sebanding dengan risiko penularan infeksi. Benarkah makin mahal berarti semakin bebas risiko infeksi? Foto: Hilda Meilisa Rinanda Ada anggapan bahwa tarif pekerja seks sebanding dengan risiko penularan infeksi. Benarkah makin mahal berarti semakin bebas risiko infeksi? Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Jakarta - Maraknya pemberitaan tentang prostitusi artis bertarif super mahal mendapat perhatian juga dari praktisi kesehatan. Perilaku gonta-ganti pasangan selalu berisiko menularkan infeksi, tak peduli berapapun tarifnya.

"Pernah ada pasien yang datang akibat penyakit hubungan seksual komplain, karena merasa sudah membeli mahal kok tetap kena juga," kata dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

"Ya itu masalahnya dengan pemeriksaan darah kita baru tahu apakah seseorang HIV atau tidak," lanjutnya dalam pesannya kepada wartawan, Sabtu (12/1/2019).


Menurut dr Ari, HIV (Human Imunodeficiency Virus) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) tidak memandang profesi. Semua bisa kena, termasuk Ibu Rumah Tangga (IRT) yang sangat mungkin tertular meski tidak gonta-ganti pasangan. Mereka tetap rentan tertular apabila suaminya suka 'jajan' di luar.

Diingatkan juga oleh dr Ari, siapapun yang pernah melakukan hubungan seksual sebaiknya memeriksakan status HIV. Makin dini terdeteksi, makin besar pula peluang menurunkan jumlah virus dan mengurangi risiko penularan dengan pemberian obat anti retro viral (ARV).

(up/ask)
News Feed