Rabu, 16 Jan 2019 10:50 WIB

Sering Sakit Dada di Bagian Kiri? Waspadai Sumbatan Koroner STEMI

Rosmha Widiyani - detikHealth
Jika nyeri dada tak kunjung reda, ada kemungkinan terserang STEMI. (Foto: shutterstock) Jika nyeri dada tak kunjung reda, ada kemungkinan terserang STEMI. (Foto: shutterstock)
Jakarta - Padatnya aktivitas kerap mengakibatkan seseorang acuh pada tanda yang diberikan tubuh, salah satunya nyeri dada. Apalagi bila sensasi tertekan dan sakit yang timbul nantinya hilang sendiri. Padahal jika dibiarkan, durasi sesak berisiko menjadi semakin lama dan membahayakan kesehatan.

"Anak muda sering sekali meremehkan nyeri dada makanya banyak yang nggak tahu kena gangguan jantung. Misalnya dalam kasus penyakit jantung koroner akibat STEMI. Padahal nyeri dada pada STEMI sifatnya khas dan berlangsung lebih dari 30 menit," kata dokter spesialis bedah thorax kardiovaskuler dr Maizul Anwar Sp BTKV (K) pada detikHealth, Selasa (15/01/2019).



STEMI atau ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) adalah sindrom koroner akut akibat gangguan suplai darah. Gangguan diakibatkan aterosklerosis yaitu penyempitan dan penebalan pembuluh arteri karena penumpukan plak. Seiring waktu, tumpukan plak semakin besar hingga akhirnya pembuluh darah tertutup seluruhnya. Diagnosis STEMI hanya bisa dilakukan dokter dengan melakukan tes dan mengetahui lokasi sumbatan terlebih dulu.

Masyarakat awam umumnya hanya mengetahui STEMI sebatas serangan jantung. Dengan kondisi ini, Maizul menyarankan masyarakat segera waspada bila kerap merasakan nyeri dada. Apalagi jika nyeri tak kunjung hilang dengan istirahat atau minum obat berbahan nitrat, yang biasa digunakan untuk melancarkan suplai darah ke jantung. Masyarakat juga wajib waspada jika durasi sesak terasa semakin lama.

Sensasi sesak dan nyeri akibat STEMI umumnya dirasakan di dada bagian tengah dan kiri. Nyeri menjalar ke rahang bawah, leher, lengan kiri atau punggung,disertai keringat dingin, mual dan muntah. Bila merasakan gejala ini, pasien tak perlu menunda untuk segera konsultasi ke dokter. Sama dengan penyakit yang lain, STEMI mudah ditangani dengan kemungkinan pulih makin besar jika diterapi secepatnya.

(Rosmha Widiyani/up)