Minggu, 20 Jan 2019 18:13 WIB

Pelayanan Apa yang Sebaiknya Kena Urun Biaya BPJS Kesehatan?

Roshma Widiyani - detikHealth
Pasien BPJS Kesehatan. Foto: Grandyos Zafna/detikHealth Pasien BPJS Kesehatan. Foto: Grandyos Zafna/detikHealth
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan aturan tentang urun biaya dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomer 51 Tahun 2018. Namun penerapan aturan bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan urung terlaksana.

Pemerintah sebelumnya menyatakan, urun biaya hanya diterapkan pada peserta BPJS Kesehatan dengan layanan tertentu. Jenis layanan ini rentan disalahgunakan karena sikap dan selera pasien.

Wakil Ketua Komisi Kebijakan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Ahmad Ansori menyarankan pemerintah mempertimbangkan jenis layanan dengan baik. Pertimbangan harus mendengarkan suara masyarakat sebagai penerima manfaat BPJS Kesehatan.

"Jenis layanan ini tidak hanya mengobati tapi juga mengedukasi masyarakat. Misal pada peserta yang sakit karena rokok atau pengaruh alkohol. Kasus seperti ini sebaiknya jadi pertimbangan utama," kata Ahmad pada detikHealth, Minggu (20/01/2019).



Menurut Ahmad, urun biaya adalah kebijakan yang biasa diterapkan pada negara dengan jaminan sosial. Ahmad merujuk pada Jepang yang menetapkan aturan serupa, termasuk pada masyarakat yang tidak sanggup membayar premi jaminan sosial.

Jepang, menurut Ahmad, menetapkan besaran urun biaya 10, 20, dan 30 persen. Besaran 10 persen ditujukan pada anak-anak dan lansia berumur lebih dari 80 tahun. Untuk 20 persen diterapkan pada kelompok pelajar.

Besaran 30 persen adalah untuk kelompok pekerja, yang umumnya berusia produktif. Negara mengambil alih kewajiban urun biaya pada masyarakat yang tak sanggup membayar, atau di Indonesia disebut Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Ahmad berharap, penetapan aturan bisa melengkapi struktur kebijakan BPJS Kesehatan yang masih memiliki kekurangan. Aturan belum menetapkan tanggung jawab masyarakat atau peserta BPJS Kesehatan untuk menjaga kondisinya. Upaya promotif dan preventif harus diutamakan, daripada kuratif atau pengobatan.

(wdw/up)