Jumat, 01 Feb 2019 14:31 WIB

Kasus Kanker Tinggi, RI Masih Kekurangan Ahli Radio Onkologi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Keterbatasan SDM untuk terapi kanker membuat masa tunggu pasien jadi lebih lama (Foto: iStock) Keterbatasan SDM untuk terapi kanker membuat masa tunggu pasien jadi lebih lama (Foto: iStock)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Prevalensi pengidap kanker dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 memang menunjukkan peningkatan. Namun spesialis yang menangani pengobatan kanker di Indonesia masih dianggap kurang, khususnya di bidang radioterapi.

"Kalau di radioterapi memang kita masih kurang banyak. Ideal dokter radio-onkologis itu 200, kita masih kira-kira separuhnya," tutur Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof Dr dr Soehartati, SpRad, Onk.Rad, saat dijumpai di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kamis (31/1/2019).

Data dari Professional Society dalam hal ini Indonesian Association of Patologist menunjukkan ketersediaan spesialis radio onkologis di Indonesia yakni sebanyak 93 dokter yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

"Memang masih kurang, tapi kita usahakan ada alat. Tapi ada produk tanpa ada SDM juga tidak bisa. Kita sudah punya roadmap sampai tahun 2030 kita harapkan sudah bisa memenuhi kebutuhan," tambahnya.



dr Tati menambahkan, idealnya, satu dokter menangani 500-600 pasien pertahun. Namun memang saat ini kebutuhannya masih belum sebanyak yang diperkirakan.

"Begini, yang dibilang 500 itu benar-benar kalau pasiennya datang. Kalau masih 100 kan berarti masih belum butuh. Jadi berjalan bersamaan antara pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesadaran," tuturnya.

"Memang sekarang kurang, di atas kertas. Tapi faktanya tidak seperti itu. Di beberapa rumah sakit bahkan spesialis radio-onkologinya ada 3-4," pungkasnya.

(kna/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
News Feed