Kamis, 14 Feb 2019 12:00 WIB

Kata Dokter Soal Video Viral Makan Sabun: Ada Kemungkinan 'Pica'

Rosmha Widiyani - detikHealth
Video viral makan sabun (Foto: Media Sosial) Video viral makan sabun (Foto: Media Sosial)
Jakarta - Sebuah video viral memperlihatkan seorang perempuan yang mengonsumsi sabun. Perempuan tersebut tampat tidak masalah makan benda yang sehari-hari digunakan untuk membersihkan tubuh.

Dalam videonya, perempuan tersebut tampak tidak masalah menyelesaikan permintaan warganet untuk makan sabun batangan merk tertentu. Warganet umumnya kaget melihat aksi dalam video tersebut, yang makan sabun meski dengan tangan berbusa.

Menanggap video tersebut, dokter ahli pencernaan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FINASIM mengatakan sabun bukan materi yang lazim dimakan. Kandungan zat dalam sabun bahkan bisa berisiko bagi kesehatan konsumennya.

"Ada kemungkinan kondisi yang disebut pica dalam video tersebut. Pica adalah kebiasaan mengonsumsi sesuatu yang tidak mengandung zat gizi. Pica ada kaitannya dengan kondisi psikis hingga akhirnya makan hal yang tidak lazim," kata dr Ari pada detikHealth, Rabu (13/02/2019).

Saksikan video makan sabun berikut ini:

[Gambas:Video 20detik]





Menurut dr Ari, pica menyebabkan seseorang menemukan kenikmatan dengan mengonsumsi sesuatu yang tidak bernutrisi. Penanganan pica diawali dengan mengetahui kondisi kejiwaan pasien terlebih dulu melalui konsultasi dengan psikiater. Konsultasi juga memungkinkan mengetahui latar pasien hingga mengonsumsi sesuatu yang tak bergizi berikut penangannya.



Penanganan selanjutnya adalah dampak dari konsumsi sesuatu yang tak mengandung gizi tersebut. Untuk konsumsi sabun, dr Ari menyebut tingkat keasaman produk yang bisa mengganggu keseimbangan dan sirkulasi darah. Kandungan zat kimia dalam sabun yang tidak untuk dimakan, juga bisa menganggu fungsi organ pencernaan.

Dikutip dari Web MD, pica adalah bahasa latin untuk burung magpie yang memakan segalanya. Kebiasaan makan yang tak lazim ini digunakan juga pada manusia dengan kondisi serupa. Selain pada manusia dan burung magpie, kelainan makan pica juga ditemui pada anjing dan kucing.

(up/up)
News Feed