Minggu, 03 Mar 2019 14:18 WIB

Sandy Tumiwa Ngaku Galau, Ini Kemungkinan Psikologis Menggunakan Narkoba

Roshma Widiyani - detikHealth
Galau, jadi alasan Sandy Tumiwa konsumsi sabu. Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom Galau, jadi alasan Sandy Tumiwa konsumsi sabu. Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom
Jakarta - Sandy Tumiwa mengaku sedang galau sehingga akhirnya mengonsumsi sabu. Dari penangkapan pada Jumat (1/3) dini hari itu, polisi menyita sabu 0,23 gram sebagai barang bukti.

"Lagi galau, urusan pribadi. Cuma ini aja (pakai sabu), kadang-kadang saja," kata Sandy, yang tangan kirinya diborgol dengan tangan kanan Mikhael Angelio, yang ikut ditangkap polisi dalam rilis kasus di Polsek Menteng, Jakpus, Sabtu (2/3/2019) dikutip dari detikNews.


Menurut dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN), ada 2 kondisi psikologis yang menyebabkan seseorang terjerat narkoba. Kondisi ini juga menentukan jenis narkoba yang akhirnya dikonsumsi.

"Seseorang cenderung menggunakan narkoba untuk merasa feel good dan feel better. Feel good dirasakan mereka yang harus memacu kinerjanya misal terjaga 24 jam, fokus terus menerus, atau artis yang dituntut segera punya inspirasi. Mereka biasanya menggunakan narkoba jenis LSD (Lysergic acid diethylamide) atau heroine. Sedangkan feel better terjadi pada mereka yang punya masalah sebelumnya," kata dr Hari pada detikHealth.

Pengguna yang ingin merasa 'lebih baik' dengan narkoba biasanya mengalami gangguan kecemasan atau low motivation. Menurut dr Hari kondisi pengguna yang ingin feel better bisa jadi mengarah pada gangguan depresi. Konsumsi narkoba diharapkan membantu pengguna merasa lebih baik atas dirinya, atau siap menghadapi lingkungan sekitar. Pengguna yang merasa cemas biasanya menyalahgunakan obat anti depresan atau ganja, sedangkan low motivation memilih narkoba yang bersifat stimulan misal sabu-sabu.

Pengguna narkoba tentunya bisa menjalani proses rehabilitasi untuk melepaskan jerat ketergantungan. Menurut dr Hari, proses rehabilitasi tak hanya melepaskan adiksi pada narkoba. Proses ini juga membantu pengguna mengatasi gangguan mental dan emosi sehingga bisa melepaskan ketergantungan pada narkoba sepenuhnya. Lamanya proses rehabilitasi bergantung pada kondisi pasien.

(ask/ask)