Senin, 18 Mar 2019 16:00 WIB

Sudah Dibantah Salmafina, Ini yang Terjadi di Otak Kalau Mabuk Alkohol

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Sisi lain Salmafina Sunan yang bisa dicontoh adalah rajin olahraga (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Sisi lain Salmafina Sunan yang bisa dicontoh adalah rajin olahraga (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Selebgram yang belakangan suka olahraga, Salmafina Sunan baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video viral. Dalam video itu ia disebut-sebut sedang mabuk.

Meski begitu, Salmafina menyangkal dirinya tengah mabuk dalam video tersebut. Beredarnya video tersebut juga berbuntut panjang, sang ayah yang adalah seorang pengacara, Sunan Kalijaga sampai harus melaporkan pengunggahnya ke polisi.

"Halo semua, beberapa dari kalian mungkin telah melihat rekaman diriku menari di internet ketika terduduk, memperlihatkan celana dalamku. Aku ingin mengklarifikasi beberapa hal: Jumat malam aku ada di tempat itu menikmati DJ, menari dan bernyanyi dan aku tidak mabuk tapi aku tidak berhati-hati," tulis Salmafina di Instagram Story.



Mabuk bisa terjadi ketika seseorang mengonsumsi alkohol melebihi batas toleransi yang ia miliki. Dikutip dari ILFScience, Stephen Braun, penulis dari 'Buzz: The Science and Lore of Alcohol and Caffeine' menjelaskan efek yang terjadi pada otak saat sedang 'teler'.

Saat seseorang minum alkohol (atau etanol), ini cepat diserap ke dalam aliran darah, kemudian ditransmisikan ke seluruh tubuh.

"Tubuh kamu merespons alkohol seolah-olah kamu telah mengambil racun yang sangat jahat dan diarahkan untuk menghilangkannya," jelas Braun.

Saat itu hati memulai proses memecah alkohol. Ini menghasilkan enzim yang disebut alkohol dehidrogenase, yang mengubah alkohol menjadi asetaldehida.

Asetaldehida, yang dianggap memainkan peran penting dalam mabuk, kemudian dipecah menjadi asam asetat. Jika kamu minum lebih banyak alkohol daripada yang dapat diproses hati, di sanalah kamu mulai mabuk. Seberapa cepatnya, tergantung dari tubuhmu.



Walaupun alkohol dikenal sebagai depresan, alkohol sebenarnya memiliki dua 'fase' berbeda.

"Dalam setengah jam pertama minum, kamu akan mengalami efek stimulasi dan euforia. Alkohol mengurangi 'kekangan' dan akan melepaskan sedikit dopamin sehingga kamu akan merasa baik," jelas Braun.

Namun efek ini bisa berubah menjadi kebalikannya. Lama kelamaan, penglihatan pun mulai terganggu. Alkohol pun mulai mempengaruhi bagian lain dari otak, menyebabkan efek depresi.

Alkohol diketahui meningkatkan penghambatan inhibitor Asam Gamma-Aminobutyric (GABA) di otak. GABA adalah neurotransmitter yang memengaruhi respons. Hal ini menyebabkan seseorang jadi sempoyongan dan bicara melantur.

(ask/up)