Kamis, 21 Mar 2019 19:15 WIB

Harga Telur Naik Rp 1.000, Risiko Punya Anak Stunting Naik 6,8 Persen!

Widiya Wiyanti - detikHealth
Telur merupakan salah satu sumber protein penting (Foto: Rachman Haryanto) Telur merupakan salah satu sumber protein penting (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Stunting masih menjadi isu kesehatan yang perlu diperhitungkan. Bagaimana tidak, menurut data dari Riskesdas 2018, prevalensi angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen dan menempati urutan keempat tertinggi di dunia.

Peneliti dari Center fot Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman melakukan sebuah penelitian mengenai hubungan antara harga pangan dengan angka stunting di Indonesia.

"Pangan yang kita observe adalah nasi (beras), daging sapi, daging ayam, telur, dan ikan. Ikan itu kita fokusin ke tiga terbanyak, yaitu tongkol, tuna, sama cakalang," ujarnya kepada detikHealth saat ditemui di Gedung Ali Wardhana LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).



Ilman menemukan adanya peningkatan pada kemungkinan suatu rumah tangga memiliki anak stunting ketika harga kelima pangan tersebut naik sebesar Rp 1.000.

Saat beras naik sebesar 1.000, maka kemungkinan risiko suatu rumah tangga memiliki anak stunting sekitar 2,44 persen. Sementara pada daging sapi naik 0,18 persen, pada daging ayam naik menjadi 0,87 persen, dan pada ikan meningkat 0,81 persen. Sedangkan kenaikan harga pada telur bisa meningkatkan risiko stunting menjadi 6,81 persen.

"Beras dan telur tinggi karena beras itu dikonsumsi secara masive, dan kalau telur dari awal relatif murah jadi naik seribu tuh mahal," tambah Ilman.

(wdw/up)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya