Selasa, 26 Mar 2019 13:51 WIB

Hoax or Not

Viral! Dry Cleaning Dikaitkan dengan Kanker Darah Bu Ani SBY, Benarkah?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Benarkah dry cleaning bisa memicu kanker darah? Foto: detikHealth Benarkah dry cleaning bisa memicu kanker darah? Foto: detikHealth
Jakarta - Ani Yudhoyono, istri dari presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah menjalani pengobatan di Singapura untuk penyakit kanker darah yang diidapnya. Sebuah pesan viral yang beredar baru-baru ini mengaitkannya dengan zat kimia berbahaya dalam proses dry cleaning.

Pesan yang beredar berbunyi sebagai berikut:

PERLU DI KETAHUI OLEH SELURUH ANGGOTA __--KELUARGA :
---------------------
Semua cucian DRY CLEAN dari Laundry yg di ambil BAJU, CELANA, JACKET, PAKAIAN DINGIN, BED COVER, SPREI, SARUNG BANTAL, setelah diambil dari LAUNDRY dibawa pulang ke rumah, sewaktu mau di pakai harus di buka dulu kantong balutan plastik nya yang dari Laundry, bed cover nya di buka dulu, di lebar kan di atas kursi 1 malam biar sisa2 dari zat kimia yang dari DRY CLEAN MENGUAP, atau pakai kipas angin di hembus dulu, kemudian baru di pakai.. INGAT JANGANLAH LANGSUNG BUKA PLASTIK NYA DAN LANGSUNG DI PAKAI, KARENA BAHAN CAIRAN KIMIA YANG DI PAKAI UTK DRY CLEANING MENGANDUNG BAHAN KIMIA YANG KERAS/ TOXIC...
Kanker Darah yang di ngidap oleh ibu Ani istri nya SBY sudah di curigai berasal dari pakaian DRY CLEANING..

Perlu diketahui, proses dry cleaning dan laundry cukup berbeda walau bertujuan sama yakni untuk menghilangkan noda. Laundry menggunakan air, sabun atau deterjen dan cairan pelembut untuk proses membersihkan. Sementara dry cleaning tidak menggunakan air, namun menggunakan bahan kimia yang disebut tetrakloroetilen atau perkloroetilen,


Benarkah informasi tersebut? Berikut ini penelusuran detikHealth.

Tetrakloroetilen diklasifikasikan oleh banyak organisasi kesehatan, terutama International Agency for Research on Cancer (IARC) dan Environment Protection Agency (EPA) sebagai senyawa racun. Walau memang pada faktanya, masih banyak digunakan terutama dalam industri dry cleaning.

Dikutip dari The Guardian, pada tahun 2012 EPA mengklasifikasikan tetrakloroetilen sebagai karsinogen manusia, yang berarti paparan secara terus menerus pada bahan kimia tersebut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Pada tahun yang sama, klasifikasi tersebut diamini IARC berdasarkan bukti data epidemiologis dan studi pada hewan.

"Studi pada pekerja dry cleaning yang terpapar pada tetrakloroetilen menunjukkan kaitan antara paparan dengan beberapa tipe kanker, khususnya kanker kandung kemih, limfoma non-hodgkin dan multiple myeloma," papar EPA.

Lebih jauh dijelaskan oleh EPA, risiko kesehatan dari paparan bahan kimia tersebut bukan dari memakai pakaian atau barang yang telah dibersihkan melalui metode dry cleaning. Akan tetapi lebih karena paparan melalui udara atau tanah dalam jumlah besar di waktu yang singkat, yang bisa menyebabkan pusing, sakit kepala dan kehilangan kesadaran.

Sehingga para pekerja dry cleaning dan orang yang tinggal dekat dengan toko tersebut memiliki risiko lebih tinggi. Terutama jika terpapar dalam jangka waktu lama. Sebuah studi dalam Journal of Environmental and Public Health menemukan bahwa tinggal di dekat toko dry cleaning yang menggunakan tetrakloroetilen meningkatkan risiko terkena kanker ginjal.

Akan tetapi, tak semua usaha dry clean menggunakan senyawa tersebut. Dan belum diketahui dengan pasti, apakah usaha dry cleaning di Indonesia juga memakai cairan tersebut. Jadi perlukah menghindari dry cleaning? Tunggu ulasan selanjutnya.





Tonton juga video Mengenal Lebih Jauh Kanker Darah yang Dialami Ani Yudhoyono dan Anak Denada:

[Gambas:Video 20detik]


Viral! Dry Cleaning Dikaitkan dengan Kanker Darah Bu Ani SBY, Benarkah?
(frp/up)