Rabu, 27 Mar 2019 07:38 WIB

Terpopuler detikHealth

Kabar Viral Kaitkan Dry Cleaning dengan Kanker Darah Bu Ani

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kandungan dry cleaning disebut bisa picu kanker. Benarkah? (Foto: detikHealth) Kandungan dry cleaning disebut bisa picu kanker. Benarkah? (Foto: detikHealth)
Jakarta - Beredar pesan di aplikasi pesan singkat yang menyebutkan terdapat racun dalam proses dry cleaning. Racun tersebut dicurigai menyebabkan penyakit kanker darah yang diidap oleh Ani Yudhoyono, istri dari presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pesan yang beredar berbunyi sebagai berikut:

PERLU DI KETAHUI OLEH SELURUH ANGGOTA __--KELUARGA :
---------------------
Semua cucian DRY CLEAN dari Laundry yg di ambil BAJU, CELANA, JACKET, PAKAIAN DINGIN, BED COVER, SPREI, SARUNG BANTAL, setelah diambil dari LAUNDRY dibawa pulang ke rumah, sewaktu mau di pakai harus di buka dulu kantong balutan plastik nya yang dari Laundry, bed cover nya di buka dulu, di lebar kan di atas kursi 1 malam biar sisa2 dari zat kimia yang dari DRY CLEAN MENGUAP, atau pakai kipas angin di hembus dulu, kemudian baru di pakai.. INGAT JANGANLAH LANGSUNG BUKA PLASTIK NYA DAN LANGSUNG DI PAKAI, KARENA BAHAN CAIRAN KIMIA YANG DI PAKAI UTK DRY CLEANING MENGANDUNG BAHAN KIMIA YANG KERAS/ TOXIC...
Kanker Darah yang di ngidap oleh ibu Ani istri nya SBY sudah di curigai berasal dari pakaian DRY CLEANING..

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Agus Haryono menjelaskan kepada detikHealth pada Selasa (26/3/2019) bahwa ada salah satu jenis pelarut organik yang digunakan sebagai penghilang kotoran bernama tetrakloroetilen atau disebut PCE.



PCE merupakan cairan pelarut organik yang umum digunakan untuk membersihkan minyak, kotoran, lilin tanpa berdampak pada kain atau bahan besi. Selain untuk mencuci dry clean, PCE juga digunakan untuk bahan anti-air, pembersih cat, tinta printer, lem, perekat, pemoles dan pelumas. PCE merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk membuat senyawa kimia lainnya.

Yayasan Kanker Amerika Serikat (ACS) menyatakan PCE yang berbentuk cairan bisa dengan mudah menguap lalu mengembun dan jatuh ke tanah atau air. Oleh karena itu senyawa ini bisa jadi ada dalam jumlah yang amat kecil di udara yang kita hisap maupun di air yang kita minum.

Menurut Agus, tetrakloroetilen sudah tergolong sebagai senyawa karsinogenik Klas 2A oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Artinya sudah terbukti menyebabkan kanker pada binatang uji, tetapi belum banyak bukti pada manusia.

Dikutip dari The Guardian, pada tahun 2012 Environment Protection Agency (EPA) mengklasifikasikan tetrakloroetilen sebagai karsinogen manusia, yang berarti paparan secara terus menerus pada bahan kimia tersebut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.



"Studi pada pekerja dry cleaning yang terpapar pada tetrakloroetilen menunjukkan kaitan antara paparan dengan beberapa tipe kanker, khususnya kanker kandung kemih, limfoma non-hodgkin dan multiple myeloma," papar EPA.

Lebih jauh dijelaskan oleh EPA, risiko kesehatan dari paparan bahan kimia tersebut bukan dari memakai pakaian atau barang yang telah dibersihkan melalui metode dry cleaning. Akan tetapi lebih karena paparan melalui udara atau tanah dalam jumlah besar di waktu yang singkat, yang bisa menyebabkan pusing, sakit kepala dan kehilangan kesadaran.

Sehingga para pekerja dry cleaning dan orang yang tinggal dekat dengan toko tersebut memiliki risiko lebih tinggi. Terutama jika terpapar dalam jangka waktu lama. Sebuah studi dalam Journal of Environmental and Public Health menemukan bahwa tinggal di dekat toko dry cleaning yang menggunakan tetrakloroetilen meningkatkan risiko terkena kanker ginjal.

"Bisa menyebabkan gangguan sistem saraf, kerusakan ginjal (jika makanan terkontaminasi), gangguan reproduksi dan lain-lain," imbuh Agus.

Ia mengatakan belum ada bukti secara langsung bahwa bahan kimia ini menimbulkan kasus penyakit kanker di Indonesia. Hal ini disebabkan belum ada yang meneliti secara langsung, sehingga dapat disimpulkan kabar itu HOAX.

Dengan catatan, masih belum diketahui apakah dry cleaning di Indonesia masih menggunakan bahan kimia tersebut. Ada banyak jenis pelarut organik yang lebih aman bagi kesehatan. Namun jika masih tetap menggunakan tetrakloroetilen, maka proses dry cleaning-nya harus betul-betul tertutup agar uapnya tidak terhirup keluar.

Ia juga menyarankan pada pengusaha dry cleaning untuk tidak menggunakan bahan kimia tetrakloroetilen. Lebih baik menggunakan bahan kimia pengganti yang lebih aman. Dan disarankan bagi para pekerja dry cleaning untuk menghindari kontak langsung, misal dengan menggunakan sarung tangan lateks.

"Saran kepada masyarakat, sebaiknya baju atau kain yang di-dry cleaning, diangin-anginkan dahulu sebelum digunakan (untuk menghindari paparan, jika masih ada bahan kimia tersisa)," pungkas Agus.




Tonton juga video Sekilas, Mengenal Kanker Darah yang Diderita Bu Ani:

[Gambas:Video 20detik]


Kabar Viral Kaitkan Dry Cleaning dengan Kanker Darah Bu Ani
(frp/up)