Sabtu, 30 Mar 2019 08:41 WIB

Terpopuler detikHealth

Viral Ibu Dorong Anak, Kekerasan Vs Sedikit-sedikit Diviralkan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Seorang ibu yang mendorong anak keluar dari mobil menjadi viral. Fenomena antara kekerasan atau sedikit-sedikit viralkan ya? Foto: Muhammad Aminudin Seorang ibu yang mendorong anak keluar dari mobil menjadi viral. Fenomena antara kekerasan atau sedikit-sedikit viralkan ya? Foto: Muhammad Aminudin
Jakarta - Pada Kamis (28/3/2019) ramai beredar sebuah video di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang ibu yang mendorong anak perempuannya secara paksa keluar dari mobil di sebuah pinggir jalanan kota Malang.

Warganet heboh dan menyampaikan beragam komentar. Kasus tersebut viral hingga diusut oleh pihak kepolisian dari Polres Malang. Kasubag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni mengatakan kepada detikcom bahwa ia sangat menyesali kejadian ini karena bisa berdampak buruk pada anak.

Akhirnya sang ibu dalam video tersebut ditemukan dan membuat video klarifikasi. Dalam video tersebut, sang ibu menyampaikan rasa menyesal dan khilaf atas perbuatan tersebut, yang ternyata disebabkan sang anak menolak berangkat les dengan alasan tidak dibawakan baju ganti.



Kasus tersebut menuai sorotan tak hanya dari warganet namun juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan para psikolog. Salah satunya Fajriari Maesyaroh, psikolog dari Yayasan Sahabatku yang menyoroti pentingnya kesehatan mental para ibu.

"Jadi kalau misalnya ada ungkapan 'Happy Wife, Happy Life' ya itu ternyata memang benar," kata wanita yang lebih akrab disapa Fajri ini kepada detikHealth, Jumat (29/3/2019).

Fajri juga menganjurkan kepada para orang tua untuk tidak melalukan pengabaian sebagai bentuk 'hukuman' pada anak. Lebih baik dilakukan dengan 'mencabut' apa yang diinginkan atau yang disenangi oleh anak.

"Kalau misalnya ia senangnya nonton TV, maka jam nonton TV-nya ditiadakan. Atau dia mendapat konsekuensi dari perilaku yang tidak sesuai harapan orang tua, misal konsekuensinya mendapat tambahan tugas. Jangan pengabaian, atau bahkan kekerasan fisik hingga verbal, karena bisa menimbulkan efek trauma tersendiri bagi anak," katanya.

Tak lupa ia menyasar para ibu untuk mampu mengendalikan emosinya lebih baik. Fajri menyarankan untuk mengenali emosi, time out atau memberi jeda untuk berpikir, dan rileks sebelum kembali menghadapi anak.



Psikolog Reza Indragiri Amriel menyinggung hal yang berbeda. Ia memaparkan pertanyaan soal bagian mana yang memprihatinkan dari video viral tersebut; apakah ibu yang murka, anak yang tidak mau ikut les karena tidak dibawakan baju ganti, warga memvideokan namun tidak menolong, atau polisi yang justru mempersoalkan pengunggah video di medsos?

Ia mengatakan bisa saja video tersebut dipandang sebagai bentuk public watch, sehingga pada derajat tertentu di masyarakat sudah ada keinsafan akan isu perlindungan anak. Sayangnya, ia menilai masyarakat masih canggung untuk berinteraksi dengan otoritas penegakan hukum.

"Ini pun merupakan satu persoalan tersendiri. Terlepas dari perasaan kurang nyaman yang mungkin masih ada tersebut, viralnya video dimaksud terbukti berhasil mengaktivasi mekanisme sanksi sosial. Berlanjut dengan terbukanya peluang perukunan antarpihak dengan mengandalkan nilai kearifan dan kekeluargaan."

Di tataran publik, menurut Reza video tersebut juga mampu memantik solidaritas sekaligus empati akan situasi yang dialami ibu-anak dimaksud. Berseliwerannya narasi tentang pentingnya anger management, pola pengasuhan, dan lain-lain, adalah manifestasi kesediaan publik untuk ikut memikirkan masalah yang sejatinya juga dihadapi orang banyak.

"Jadi, sekali lagi, haruskah penyebar video diposisikan sebagai terduga pelaku pelanggaran UU ITE? Bukan sebagai bentuk public watch dalam isu perlindungan anak? Mari diskusikan," tutup Reza.



Simak Juga 'Klarifikasi Ibu Dorong Anak dari Mobil, Ngaku Khilaf':

[Gambas:Video 20detik]



Viral Ibu Dorong Anak, Kekerasan Vs Sedikit-sedikit Diviralkan
(frp/up)
News Feed