Minggu, 07 Apr 2019 21:22 WIB

Operasi Katarak dan Hal yang Kamu Perlu Tahu Tentang Penyakitnya

Robi Setiawan - detikHealth
Prof. Dr. Suhardjo/ Foto: Robi Setiawan/detikcom Prof. Dr. Suhardjo/ Foto: Robi Setiawan/detikcom
Yogyakarta - Angka penderita katarak di Indonesia masih cukup tinggi. Oleh sebab itu berbagai lembaga maupun instansi sering mengadakan kegiatan sosial dalam bentuk operasi katarak gratis, yang digelar di banyak daerah di Indonesia, di antaranya untuk mengurangi tingginya kasus katarak.

"(Angkanya) bervariasi mulai 1-2% di antara kelompok usia 40 tahun ke atas. Sudah ada data kok 2014 sudah disurvei. Misalnya di Jawa Timur cukup tinggi. Di DKI Jakarta hampir sama dengan Yogyakarta, 0,9% dari kelompok 40 tahun ke atas," ungkap Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cab. Yogyakarta, Suhardjo, dalam acara operasi katarak gratis di Yogyakarta, Minggu (7/4/2019).


Suhardjo menjelaskan memang katarak cenderung dialami oleh orang yang sudah tua atau lanjut usia, sehingga menjadi kasus yang cukup wajar dialami. Walaupun begitu ia juga tak menampik beberapa kasus katarak terjadi pada anak kecil yang disebabkan turunan.

"Kena katarak umur 80 atau 90 gapapa, wajar. Tapi kalau umur 50 sudah kena katarak ya itu tidak wajar," katanya.

Terkait hal itu menurutnya ada banyak faktor yang menambah risiko terkena katarak, di antaranya pola hidup yang tidak sehat seperti sering terpapar sinar matahari langsung, merokok, darah tinggi, dan menderita diabetes. Untuk diabetes ini ia menyebut sebelum kataraknya, maka harus disembuhkan dulu diabetesnya.

Katarak ini, lanjutnya, bisa dirasakan dengan beberapa tanda, misalnya mulai sering melihat kabut. Gejala juga dapat dilihat jika mulai sering merasa silau atau terganggu dengan cahaya matahari siang, sedangkan pada sore hari pandangan yang remang-remang justru lebih jelas.

"Itu yang katarak awal. Kalau yang lanjut ya siang maupun malam gelap," ujarnya.

Lebih lanjut Suhardjo mengungkapkan baik mata kanan maupun kiri memiliki kecenderungan yang sama mengalami katarak. Selain itu ia juga menyebut katarak seringkali dialami di masyarakat pedesaan, karena pengetahuan mengenai gaya hidup sehat yang rendah, akibat dari tingkat pendidikan yang rendah juga.

Senada dengan Suhardjo, Direktur Rumah Sakit Puri Husada, Soebroto mengungkapkan katarak adalah proses alami yang wajar dialami seseorang di usia lanjut. Menurutnya seiring meningkatnya angka harapan hidup, kemungkinan terjadinya kasus katarak pun semakin tinggi.

"Risiko untuk katarak memang tinggi. Jadi akan terus antre. Dengan bertambahnya populasi, akan terus (bertambah). Saya kira tidak akan habis, karena itu (katarak) memang proses alamiah, alami," jelas Soebroto.


Berangkat dari hal tersebutlah Sido Muncul mengadakan acara operasi katarak gratis. Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan operasi katarak gratis di Yogyakarta bukanlah kali pertama. Sampai Maret 2019, ia menyebut bantuan sosial ini sudah dilaksanakan di 27 provinsi, 211 kota/kabupaten, 238 rumah sakit/klinik, dan 52 ribu mata.

"Saya pernah melakukan di Indonesia timur, di Kupang, kemudian di Medan, Makassar. Di luar pulau kami juga (lakukan). Tapi memang penduduknya paling banyak di Pulau Jawa," ungkap Irwan.

Lebih lanjut menurutnya untuk operasi katarak kali ini ia menargetkan 100 penderita katarak bisa dioperasi.

"Kami yang di-screening itu 200 orang, tapi yang lolos hanya 51. Mudah-mudahan nanti di tahap kedua kami bisa operasi. Yang penting kami bisa operasi sebanyak mungkin, namun kalau tidak memenuhi syarat untuk dioperasi ya tidak bisa," katanya. (ega/up)