Selasa, 09 Apr 2019 15:45 WIB

Vape Disebut Lebih Aman dibanding Rokok, Setuju Nggak Guys?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Lebih aman tidak pernah bisa diartikan benar-benar aman (Foto: iStock) Lebih aman tidak pernah bisa diartikan benar-benar aman (Foto: iStock)
Jakarta - Prevalensi remaja merokok di Indonesia memang kian naik yang dibuktikan dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari 7,2 persen di tahun 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018.

Padahal, bahaya merokok sudah jelas beredar mulai dari peringatan pada bungkus rokok dan informasi kesehatan lainnya. Adanya problem ini tentu menimbulkan kecemasan bagi banyak pihak karena bahaya rokok tidak hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga orang lain di sekitarnya.

Karenanya, Asosiasi Vaporizer Indonesia (APVI), Asosiasi Vaper Indonesia (AVI), Asosiasi Vaper Bali (AVB) dan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) membentuk komitmen untuk mengurangi persoalan yang diakibatkan oleh TAR dan asap rokok dengan membuat kampanye GEBRAK! atau Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok.



Peneliti YPKP, Dr drg Amaliya MSc, PhD mengatakan, untuk berhenti merokok itu ada beberapa jalan. Salah satunya adalah tobacco harm reduction yakni mengurangi bahaya tembakau. Jadi berpindah dari produk yang bahayanya 100 persen ke produk yang bahayanya lebih rendah, salah satunya dengan vape atau rokok elektrik.

"Penelitian dari Public Health England menunjukkan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik memiliki risiko kesehatan jauh lebih rendah hingga 95 persen daripada rokok konvensional," ujarnya kepada detikHealth, Selasa (9/4/2019).

drg Amaliya menambahkan, uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik tidak menghasilkan TAR sehingga dianggap lebih aman daripada rokok yang dibakar. Selain itu, rokok elektrik juga ada yang tidak memiliki nikotin sama sekali.

Tahu nggak artinya less harmful? Bukan berarti aman kan? Hanya lebih sedikit risikonya. Itu juga tidak benar, sama-sama berbahaya bagi kesehatan kokdr Agus Dwi Susanto, SpP(K) - dokter paru RSUP Persahabatan


Meski dianggap lebih tidak berbahaya, rokok elektrik juga memiliki dampak negatif yang diperoleh dari liquid atau perisa dari vape tersebut.

"Kalau kita masukin zat kan tetap ada bahayanya. Beberapa penelitian menyatakan tetap ada iritasi di tenggorokan, terasa gatal, sariawan atau luka di rongga mulut," tuturnya.

Namun dalam wawancara dengan detikHealth sebelumnya, dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menyarankan untuk tidak mengonsumsi keduanya, baik rokok konvensional maupun vape.

"Dari awal remaja mesti sadar betul rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.



Klaim 'less harmful' bahkan dinyatakan sebagai pernyataan yang menyesatkan oleh dr Agus. Sebab, akan ada masalah yang timbul dari konsumsi vape jika dikonsumsi dalam jangka panjang khususnya bagi remaja.

"Tahu nggak artinya less harmful? Bukan berarti aman kan? Hanya lebih sedikit risikonya. Itu juga tidak benar, sama-sama berbahaya bagi kesehatan kok," tegas dr Agus.

Gimana nih detikers? Setuju nggak kalau vape bisa menjadi alternatif yang lebih aman untuk berhenti merokok? Tulis di kolom komentar ya!





Simak Juga 'Amankah Rokok Elektrik Digunakan?':

[Gambas:Video 20detik]

(kna/up)
News Feed