Kamis, 18 Apr 2019 17:28 WIB

Siang Panas Terik tapi Hujan Deras Sore Hari? BMKG Ungkap Penyebabnya

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Pedestrian di kawasan Sudirman selau dipadati para pejalan kaki meski giguyur hujan. (Foto: Rifkianto Nugroho) Pedestrian di kawasan Sudirman selau dipadati para pejalan kaki meski giguyur hujan. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta - Beberapa wilayah di Indonesia mengalami kemungkinan musim kemarau yang datang lebih lama dari biasanya. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Marjuki dalam acara temu media di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menurut Marjuki, musim kemarau sudah masuk ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, karena memang normalnya musim kemarau dimulai dari daerah sama. Akan tetapi beberapa wilayah termasuk DKI Jakarta salah satunya mengalami kemunduran.

"Secara umum kami sudah merilis untuk April, kita prediksi wilayah yang umumnya normal terjadi kemunduran terbukti Jakarta April akhir lah sudah nggak ada hujan tapi ternyata masih ada, jadi ada peluang mundur untuk beberapa wilayah," jelasnya.



Ketika hujan mulai berkurang, masuklah masa peralihan. Masa transisi itu ditandai dengan sejumlah pertanda cuaca misalnya angin yang tidak menentu.

"Kalau musim kemarau itu angin timuran, musim hujan angin baratan nah ini masih bolak balik kadanh ketimuran atau kebaratan sehingga cuacanya masih kena," lanjutnya.

Nah bukan cuma itu. Ternyata panas terik yang sering kali kita rasakan dan hujan yang mendadak turun di sore hari jadi pertanda dari peralihan musin hujan ke musim kemarau, loh.

"Biasanya dia hujannya sore hari turunnya, itu masa-masa transisi. Saat pagi sampai siang akan banyak panas membuat dia pertumbuhan awan banyak, tapi ini lokal sekali, tiap wilayah beda," tandasnya.

(ask/up)
News Feed