Kamis, 18 Apr 2019 18:45 WIB

Lubang Bekas Galian Tambang dan Bencana, Kemenkes: Jangan Rusak Alam!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Banjir bandang di Sentani, Jayapura. (Foto: Antara Foto) Banjir bandang di Sentani, Jayapura. (Foto: Antara Foto)
Jakarta - Setuju tidak setuju, ulah tangan manusia juga menyumbang dampak untuk keselamatan makhluk hidup lainnya dan lingkungan. Dengan adanya perbuatan manusia yang kelewat batas dalam merusak lingkungan atau eksploitasi berlebihan, bencana yang bisa dihindari atau dicegah justru bisa muncul karenanya, contoh banjir bandang.

"Nggak semua (karena perbuatan manusia --red) tapi dominasi, yang contoh gampang banjir bandang di Bangka Belitung. Kalau karena hujan sejak jaman Sriwijaya ada hujan, nggak ada banjir tuh, tapi kemudian karena ada perbuatan manusia untuk menggali pasir timah gali sampai kolamnya gede timahnya habis tinggal, jadilah kolam kolam kolam, begitu hujan airnya nampung, nampung, nggak tahan, jebol," ungkap dr Achmad Yurianto, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI saat ditemui di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan.



Pihak dari Kemenkes pun telah melakukan koordinasi kepada lintas sektor untuk membahas hal serupa untuk isu kesehatan dan lingkungan. Sebab, pekerjaan ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh salah satu kementerian saja.

"Karena kita (Kemenkes --red) selalu berada di hilir yang jadi pelengkap para penderita ini, kita selalu lintas sektor 'tolong dong kasih tahu yang lain tuh, ngasih ijin tambang kan Anda bukan kementerian', jangan kemudian kita dijadikan pelengkap penderita dua kali. Jadi ini pekerjaan besar," tuturnya.

"Kunci yang paling besar dari teman-teman media untuk mengatakan jangan merusak alam. Menjaga kesehatan lingkungan hidup itu kuncinya," pungkasnya seraya melangkah pergi, memutuskan pembicaraan.

Baca juga: (ask/up)