Minggu, 21 Apr 2019 18:35 WIB

Ini Efeknya Bagi Kejiwaan Bila Peseteruan Cebong-Kampret Tidak Disudahi

Rosmha Widiyani - detikHealth
Cebong dan kampret bisa alami stres jika masih berseteru usai pemilu. Foto: Pradita Utama Cebong dan kampret bisa alami stres jika masih berseteru usai pemilu. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Perang opini dan pernyataan masih terus berlangsung antara kubu pasangan calon (paslon) 01 dan 02. Berbekal hasil hitung cepat, keduanya mengklaim kemenangan yang berisiko menimbulkan keributan antar pendukung.

Berbagai pihak lantas menyerukan perdamaian atau rekonsiliasi antara cebong dan kampret sebutan bagi pendukung kubu 01 dan 02. Seruan ini mendapat tanggapan positif psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, meski pesimistis himbauan tersebut dilaksanakan.

"Imbauan tersebut bagus dilakukan tapi saya ragu efektivitasnya. Siapa peduli dengan perasaan pihak yang baru sebatas diperkirakan kalah? No way. Kedua kubu juga sudah sempat melakukan praktik agitasi," kata Reza pada detikHealth, Minggu (21/4/2019).


Agitasi adalah praktik yang sangat biasa dalam dunia politik dengan menghasut banyak orang untuk melakukan tindakan tertentu. Menurut Reza, kubu 01 sempat menyatakan, "Sekarang saya (kita) lawan," saat kampanye. Sementara kubu 02 menunjukkan ekspresi dengan menggebrak meja saat kalimat tak lagi bisa mengungkapkan perasaan hati.

Meski rekonsiliasi mungkin belum terjadi dalam waktu dekat, namun masyarakat bisa menekan efek perseteruan antar pendukung kedua kubu. Masyarakat juga tak perlu terseret arus saling klaim kemenangan dari paslon 01 dan 02.

Reza menyarankan jauh-jauh dari media sosial atau konten lain seputar pemilu. Segala materi seputar Pemilihan Umum (Pemilu) yang bisa memicu munculnya rasa cemas harus dihindari. Hal serupa juga harus diterapkan pada anak-anak yang juga berisiko mengalami kecemasan usai pemilu.

"Jika kita lihat pemilu di AS pada 2016, tensi psikolog antar kubu justru terus naik apalagi dengan tingkah Presiden terpilih yang memang provokatif. Jika ingin menekan efek atau tak ikut arus lebih baik menjauh dari media sosial, supaya tidak lekas merasa cemas dan gelisah akibat perseteruan kedua kubu," ujar Reza.

(Rosmha Widiyani/up)
News Feed