Senin, 22 Apr 2019 12:39 WIB

Stop! Hentikan Olok-olok Seputar 'Gangguan Jiwa' Pasca Pemilu

Widiya Wiyanti - detikHealth
Jangan mengolok-olok seputar gangguan jiwa pasca pemilu. Foto: Ari Saputra Jangan mengolok-olok seputar 'gangguan jiwa' pasca pemilu. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) kali ini dimeriahkan oleh aksi para pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) di media sosial. Sayangnya, aksi mereka bukan hal yang bisa dicontoh.

Baru-baru ini, istri Andre Taulany, Erin dianggap menghina Prabowo Subianto dengan menuliskan kata-kata 'Kasian tambah sakit jiwa', 'Sinting', dan 'Kasian jadi GiLa krn ambisi pingin jadi President gak kesampean!!!' pada Instagram Story-nya. Kemudian tangar #ErintaulanySakitJiwa pun menjadi trending di media sosial.

Apakah semudah itu mendiagnosis seseorang mengalami gangguan jiwa? Praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Krida Wacana, dr Andri, SpKJ, FACLP mengatakan bahwa untuk mendiagnosis seseorang mengalami gangguan jiwa bukanlah hal mudah.



Jangan menambah stigma gangguan jiwa dengan hal-hal yang sifatnya melecehkan atau merendahkan orang dengan masalah kejiwaan atau dengan gejala gangguan jiwadr Andri, SpKJ - Dokter Jiwa




















"Psikiater sebagai dokter yang menangani masalah kejiwaan tidak bisa mendiagnosis pasien hanya dari berita di media atau tampilan video di media sosial. Pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis gangguan jiwa harus dilakukan secara langsung, bukan berdasarkan rekaan atau asumsi dari psikiater tersebut. Konsekuensi dari diagnosis gangguan jiwa terhadap pasien itu tidak mudah," jelas dr Andri dikutip dari blog pribadinya psikosomatik.net.

Yang paling penting, dr Andri mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mengira-ngira atau bahkan menjadikan 'gangguan jiwa' sebagai bahan olok-olokan atau bercandaan hanya dengan melihat perilaku dan perkataannya di media sosial.

"Jangan menambah stigma gangguan jiwa dengan hal-hal yang sifatnya melecehkan atau merendahkan orang dengan masalah kejiwaan atau dengan gejala gangguan jiwa. Semoga kita bisa memahaminya," harapnya.

(wdw/up)