Jumat, 26 Apr 2019 20:08 WIB

Pakar Ragukan 'Obat Warung' untuk Sakit Kepala Bisa Bikin Kecanduan

Rosmha Widiyani - detikHealth
Dalam sehari Miing bisa menghabiskan 12 butir obat sakit kepala. (Foto: Muhammad Iqbal) Dalam sehari Miing bisa menghabiskan 12 butir obat sakit kepala. (Foto: Muhammad Iqbal)
Jakarta - Seorang pria asal Cilegon mengaku mengalami 'kecanduan' obat sakit kepala selama 29 tahun. Pria bernama Acep Sumekar alias Miing Sumaker ini minum 12 tablet obat sakit kepala sehari tiap hari sejak umur 26 tahun.

Menurut Miing, dia mengalami sakit kepala jika tidak minum obat yang dijual bebas di warung tersebut tiap 1-2 jam. Sakit yang lama sembuhnya mengakibatkan Miing tidak produktif dalam menjalankan kegiatannya setiap hari.


Menurut peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) dr Hari Nugroho, MSc, kadar parasetamol dalam obat sakit kepala terlalu kecil untuk bisa menimbulkan kecanduan obat. Kalau punya risiko memicu kecanduan, maka kecil kemungkinannya dijual bebas.

"Yang perlu diwaspadai adalah pseudo-addiction yang tampak seperti adiksi atau ketergantungan padahal bukan. Kondisi yang seperti ini ada upaya mengobati diri sendiri karena sakit fisik atau psikis," kata dr Hari saat dihubungi detikHealth, Jumat (26/4/2019).


Menurut dr Hari patut diwaspadai pseudo-addiction, tampak seperti adiksi atau ketergantungan padahal bukan.Patut diwaspadai pseudo-addiction, tampak seperti adiksi atau ketergantungan padahal bukan. (Foto: Muhammad Iqbal)

Menurut dr Hari, seseorang yang berlebihan mengonsumsi obat sakit kepala bisa jadi memiliki penyakit lain yang tidak terdiagnosis. Obat sakit kepala memang bisa meredakan gejalanya, tetapi tidak mengatasi penyebab yang sesungguhnya. Kemungkinan inilah yang menurut dr Hari perlu didalami dalam kasus Miing di Cilegon.

"Pandangan saya terhadap kasus tersebut kemungkinan pasien ada dasar gangguannya baik secara fisik maupun psikis. Ini yang harus dievaluasi ulang, sehingga orang tersebut mendapat terapi yang sesuai dan adekuat (mencukupi)," tegas dr Hari.

(up/up)
News Feed