Sabtu, 04 Mei 2019 14:20 WIB

Mengenal Sindrom Nasi Goreng, Keracunan Makanan yang Bikin Diare dan Mual

Rosmha Widiyani - detikHealth
Pastikan nasi goreng yang kamu makan aman dan disiapkan secara higienis. (Foto: iStock) Pastikan nasi goreng yang kamu makan aman dan disiapkan secara higienis. (Foto: iStock)
Jakarta - Pernah dengar sindrom nasi goreng? Penyakit akibat keracunan makanan ini ternyata cukup sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dikutip dari Live Science, penyakit yang diakibatkan bakteri Bacillus cereus ini ditemukan sebanyak 63 ribu kasus tiap tahunnya di Amerika.

"B cereus secara alami membentuk koloni di nasi yang tidak dimasak sempurna. Bakteri mampu bertahan hidup selama proses pemasakan dan tumbuh dengan baik pada lingkungan bersuhu kamar sekitar 25 derajat Celcius," kata ahli mikrobiologi dan profesor klinis Philip Tierno di New York University Langone Health.


Sesuai namanya, bakteri penyebab sindrom nasi goreng ditemukan pada sisa makanan tersebut. Bakteri bisa menginfeksi saat makanan langsung dikonsumsi atau beberapa saat setelahnya. Bakteri bahkan mulai tumbuh saat nasi yang sudah matang didinginkan sebelum diolah menjadi nasi goreng.

Membiarkan nasi dalam suhu ruang ternyata menjadi waktu yang ideal untuk pertumbuhan bakteri. Proses menghangatkan makanan tidak menghilangkan racun dari B cereus yang mengakibatkan mual dan muntah. Jumlah kasus infeksi mungkin lebih banyak namun tidak dilaporkan.

Bakteri yang masuk ke dalam tubuh menghasilkan 2 jenis racun dengan gejala infeksi berbeda. Racun tipe satu dihasilkan bakteri di usus halus yang mengakibatkan diare, sakit perut, sesekali mual namun tidak muntah. Gejala terjadi 6-15 jam setelah mengonsumsi makanan yang terinfeksi termasuk daging, susu, sayur, dan ikan.

Racun kedua dihasilkan bakteri sebelum makanan masuk ke dalam tubuh. Bakteri umumnya menginfeksi makanan yang mengandung tepung misal nasi. Racun ini mengakibatkan muntah dan mual pada 30 menit hingga 6 jam setelah makanan terinfeksi bakteri dikonsumsi.


Gejala yang diakibatkan 2 jenis racun tersebut biasanya bisa diatasi dengan banyak minum dan istirahat dalam waktu 24 jam. Namun pada orang dengan masalah pada sistem imun, infeksi bisa mengakibatkan radang selaput otak, kematian jaringan, infeksi di bawah kulit. Kasus yang perlu penanganan dokter biasanya mendapat infus untuk mencegah dehidrasi dan antibiotik sesuai kebutuhan pasien.

Infeksi yang berisiko terjadi pada segala usia ini dapat dicegah dengan tidak menyimpan makanan pada suhu ruang. Makanan harus disimpan dalam suhu panas lebih dari 60 derajat Celcius, atau kurang dari 4 derajat Celcius dalam kondisi dingin. Proses menghangatkan atau mendinginkan makanan yang dibiarkan selama lebih dari 2 jam mungkin akan membunuh bakteri, tapi tidak menghilangkan risiko terjadinya infeksi.

Mengenal Sindrom Nasi Goreng, Keracunan Makanan yang Bikin Diare dan Mual
(fds/fds)