Rabu, 08 Mei 2019 15:33 WIB

Psikolog Ini 'Diagnosis' Sejumlah Karakter Game of Thrones, Apa Jadinya? (2)

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Psikolog ungkap kemungkinan masalah psikologi karakter di film series Game of Thrones. Foto: istimewa Psikolog ungkap kemungkinan masalah psikologi karakter di film series Game of Thrones. Foto: istimewa
Jakarta - Meskipun fiksi, karakter Game of Thrones sebenarnya cukup menarik untuk ditelaah dari sisi psikologis. Ini pun membuat terapis perkawinan dan keluarga berlisensi, Dr Kirk Honda, dikutip dari ILFSCIENCE! memberikan pendapatnya mengenai kemungkinan diagnosis sejumlah karakter GOT.

Seperti apa diagnosisnya?

The hound/The Hound. Foto: Dok. HBO
Sandor Clegane

The Hound dinilai memiliki kemungkinan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dari tindakan abusive yang dialaminya oleh kakaknya sendiri. Menurut cerita, Gregor Clegane membakar wajah The Hound saat masih kecil dan membuat ia merasa takut dengan api.

"Saat dia menghadapi ancaman api, dia secara konsisten menunjukkan tanda-tanda PTSD, terutama penghindaran," jelas Honda.

Sementara beberapa orang mungkin percaya bahwa Hound adalah seorang psikopat atau sadis, Honda ragu untuk mendiagnosisnya seperti itu karena ia menunjukkan empati dan penyesalan pada banyak kesempatan, terutama untuk Sansa dan Arya Stark. Dia juga tampaknya tidak berusaha untuk menyakiti orang lain demi kesenangannya sendiri.

"Dokter lain dapat menerapkan label psikopati karena ia menunjukkan perasaan tidak berperasaan dan kesenangan saat merugikan orang lain," ujar Honda, "tetapi menurut saya, sikap itu bisa menjadi bagian dari pekerjaannya, mirip dengan seseorang di militer selama masa perang."

Sandor juga menampilkan masalah dengan alkohol yang mirip dengan Cersei.



Akhir tragis Theon Greyjoy.Akhir tragis Theon Greyjoy. Foto: DOK. Helen Sloan/HBO


Theon Greyjoy

Malang nasibnya Theon, kekejaman yang ia alami dari Ramsay Bolton membuat ia mengalami perubahan perilaku yang kontras. Ia pun diduga mengidap masalah psikologis yaitu Stockholm Syndrome.

"Dia menjadi tunduk untuk menyelamatkan hidupnya," jelas Honda.

Honda menjelaskan bahwa Theon kehilangan identitasnya karena trauma. Hilangnya identitas ini diperburuk oleh tekanan ayah dan saudara perempuan Theon menjadikannya kejam, suatu pendekatan yang menyimpang dari moralitas yang ia pelajari dari keluarga Starks.

"(Theon -- red) merasa sangat bersalah dan malu yang berkontribusi pada keyakinannya kalau ia itu pantas dihukum," lanjut Honda.


Tyrion Lannister.Tyrion Lannister. Foto: Dok. HBO


Tyrion

Banyak yang melakukan 'dugaan' psikologis yang dimiliki oleh masing-masing karakter GOT. Selain Honda, ada juga yang mencoba membuat kemungkinan masalah yang dihadapi Jon Snow dan kawan-kawan.

Dikutip dari Alliant.edu, Tyrion disebut memiliki kecenderungan Substance Abuse Disorder dan depresi.

Menjadi pecinta wanita dan alkohol diyakini menjadi cara Tyrion mengatasi pelecehan bertahun-tahun yang ia rasakan oleh ayahnya, saudara perempuannya, dan masyarakat umum.

"Dia jelas berjuang melawan alkoholisme dan depresi dan saya pikir fokusnya pada kecerdasan dan sarkasme adalah mekanisme untuk membantu membuat dirinya merasa lebih baik dan lebih unggul," kata Janina Scarlet, PhD Profesor California School of Professional Psychology (CSPP) di Alliant International University San Diego.

Jon Snow.Jon Snow. Foto: Dok. HBO

Jon Snow

Setelah dikhianati dan dibunuh secara brutal, ia jelas menunjukkan gangguan stres akut, yang mana bila dialami selama lebih dari sebulan, dapat karakteristikan sebagai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Tanda-tanda krisis identitas pun dikhawatirkan dialami oleh Jon Snow ketika ia mengetahui bahwa ia adalah putra Lyanna Stark dan Rhaegar Targaryen.

(ask/fds)