Senin, 13 Mei 2019 15:32 WIB

Rawan Stroke dan Serangan Jantung, Perlu Ada Skrining untuk Petugas KPPS

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
TKN Milenial gelar aksi solidaritas untuk petugas KPPS yang meninggal dunia. (Zakia Liland/detkcom) TKN Milenial gelar aksi solidaritas untuk petugas KPPS yang meninggal dunia. (Zakia Liland/detkcom)
Jakarta - Meski kelelahan bukan menjadi faktor utama kematian, tubuh yang terlalu dipaksa untuk bekerja akan menyebabkan masalah lain yang menjadi pemicu kematian seperti stroke dan serangan jantung seperti dialami beberapa petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) pada Pemilu 2019.

Ketika bekerja keras, penyumbatan di otak bisa tejadi. Banyaknya aktivitas menyebabkan pelepasan plak di pembuluh darah ke arteri yang lebih jauh.

"Aktivitas fisik lebih dari 48 jam bisa menyebabkan stroke dan penurunan fungsi otak. Ketika kelelahan, aliran darah bisa jadi tidak mengalir ke otak," tutur spesialis saraf, dr Rachmad Hidayat, SpS, kepada detikHealth, Senin (13/5/2019).

dr Rachmad menuturkan, setiap 2 detik ada orang yang terkena stroke. Namun stroke bukan penyakit yang sifatnya mematikan pengidapnya dengan segera.

"Stroke itu ujung, bukan pangkal. Misalnya hipertensi atau diabetes ada atau tidak. Kalau sudah ada, dia kapan saja bisa terkena stroke,"



Selain stroke, kelelahan juga bisa berujung pada serangan jantung. Jika hal ini terjadi, maka kematian yang terkesan mendadak pun bisa menyerang.

"Serangan jantung terjadi sekitar 9 menit. 50 persen bisa tertolong pada waktu 4,5 menit. Setelah itu akan terjadi kegagalan jantung yang menyebabkan kematian," ujar dr dr Anwar Santoso, SpJP dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) saat ditemui di kesempatan yang sama.

Untuk itu, kedepannya perlu adanya skrining bagi calon petugas KPPS terutama secara fisik. Sebab meski terlihat sehat, bisa saja ada faktor pemicu kedua penyakit tersebut seperti hipertensi, diabetes, bahkan pola hidup tidak sehat.

(kna/up)
News Feed