Rabu, 15 Mei 2019 04:08 WIB

Tawuran Jelang Sahur, Pengaruh Ngantuk Vs Faktor Kejiwaan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Mengapa ada tawuran? Foto: Ilustrasi--Edi Wahyono Mengapa ada tawuran? Foto: Ilustrasi--Edi Wahyono
Jakarta - Kesal rasanya melihat bulan suci Ramadhan yang seharusnya diisi dengan keindahan dan berbagai sunnah Rasulullah dinodai dengan perbuatan yang membahayakan orang lain seperti tawuran. Beberapa kali aksi tawuran didapati di beberapa tempat menjelang waktu sahur.

Psikolog Anak Devi Sani M.Psi,Psikolog berpraktik di Klinik tumbuh kembang @rainbowcastleid dan klinik insight psikologi menjelaskan ada banyak alasan perilaku agresi seperti tawuran bisa terjadi. Pertama reactive aggression yaitu perilaku agresi muncul sebagai respons dari provokasi dan ini bersifat emosional.

"Kedua, instrumental aggression yaitu berperilaku agresif untuk mendapatkan suatu hal atau mencapai tujuan. Namun pengaruh kelelahan juga bisa sebenarnya meningkatkan stres yang kemudian berujung pada perilaku agresif," jelas Devi.

Jadi, bila dikaitkan dengan perilaku tawuran, perilaku agresif dalam bentuk perkelahian yang melibatkan kelompok-kelompok ini disebabkan oleh faktor internal dan juga eksternal. Faktor dari dalam diri orang tersebut seperti tidak memiliki kemampuan resolusi konflik yang baik, kemampuan meregulasi emosi yang belum optimal, atau bisa juga sebagai bentuk pengakuan diri bahwa ia adalah orang yang berani, solid membela teman, merupakan beberapa di antaranya.


"Jika dilihat dari tahapan perkembangan kognitifnya, jika yang melakukan adalah remaja, maka oleh Piaget disebutkan mereka sedang memasuki tahap perkembangan berpikir abstrak yang membuat remaja ini menjadi lebih sensitif pada kritik dari orang lain dan masih kesulitan membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, ketika menghadapi tawuran mereka akan lebih mungkin untuk 'ikut-ikutan' daripada menimbang terlebih dahulu pro-kontra sebelum ikut tawuran," ujarnya.

Selain itu ada faktor eksternal yang membelakangi juga. Keluarga, teman dan sekolah merupakan yang paling menentukan.

"Anak yang dibesarkan di keluarga yang hangat serta menerima kekurangan-kelebihannya akan membuat anak lebih ingin untuk menunjukkan perilaku pro-sosial (menolong sesama, berdamai, dsb). Selain itu, orangtua yang mencontohkan cara menyelesaikan konflik yang baik seperti kemampuan mendengarkan akan menjadikan anak lebih memiliki perilaku bertanggung jawab di masa remajanya," jelas Devi.

"Sedangkan untuk teman, teman samgat berpengaruh pada proses pembentukan konsep diri, identitas dan kemampuan berempati pada keadaan orang lain karena teman dekat akan lebih bisa bicara dengan terbuka dan jujur sehingga membuat satu sama lain bisa lebih sensitif terhadap kekurangan dan kelebihan temannya serta apa yang dibutuhkan dan diinginkan temannya," lanjutnya.

Peer preasure atau tekanan dari pertemanan juga turut mempengaruhi perilaku tawuran. Penelitian lawas namun masih sering dipakai dari Brown tahun 1986 menunjukkan bahwa usia remaja adalah yang paling besar merasa peer preasure sebab remaja amat memikirkan pandangan temannya tentang dirinya.

(ask/up)
News Feed