Rabu, 15 Mei 2019 07:05 WIB

Agar Sahur on The Road Tak Berujung Tawur, Ini Saran Psikolog

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Sahur on the road sering berujung tawuran. Foto: Rifkianto Nugroho Sahur on the road sering berujung tawuran. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Aksi vandalisme dan tawuran saat jelang sahur membuat Ramadhan yang penuh keagungan ternodai. Tak heran bila belakangan ini banyak muncul larangan Sahur in The Road (SOTR). Padahal awalnya SOTR adalah kegiatan yang positif.

Psikolog Anak Devi Sani M.Psi,Psikolog berpraktik di Klinik tumbuh kembang @rainbowcastleid dan klinik insight psikologi menuturkan sahur sendiri kegiatan yang amat penuh berkah dikatakan oleh Rasul kita. Namun, perilaku agresif yang dilakukan saat SOTR inilah yang perlu diubah.

"Sebenarnya tidak semua SOTR. Tergantung pada komunitas apa kita ikut. Banyak juga komunitas pengajian yang mengadakan dan tertib bahkan juga dibarengi dengan muhasabah bersama setelah tahajud," jelas Devi.

Nah, merubah perilaku agresif tentu tak mudah, perlu penanganan berbagai aspek. Karena perilaku agresif ini seringkali berakar dari masa kecil maka pencegahan harus diawali sejak dini. Jika yang melakukan usia anak hingga remaja, orang tua harus sadar pengaruhnya lebih besar dari teman anak.



"Teman memang berpengaruh tapi lebih jangka pendek. Anak yang diasuh oleh keluarga yang hangat serta dengan disiplin positif, maka anak tersebut akan 'kebal' dari peer preasure, salah satunya untuk tawuran. Keluarga yang suportif, ada rasa mau saling mendengarkan dan memberikan ekspektasi sesuai dengan tingkat perkembangan anak akan membuat anak lebih mau untuk menunjukkan perilaku baik di dalam maupun di luar rumah," ujar Devi.

Namun sebaliknya, remaja dengan pengasuhan orang tua yg ekstrem (terlalu longgar atau terlalu ketat), maka remaja itu biasanya akan sangat berorientasi pada teman-temannya. Di sinilah peer preasure makin terasa (Masten, 2001). Mereka bisa jadi lebih nurut dengan temannya termasuk dalam hal melanggar aturan seperti tawuran.

Selain itu, Devi juga menyinggung peranan pemerintah dan komunitas. Jika perilaku seseorang pada SOTR sudah cukup serius dan termasuk tindak kejahatan, maka Devi menyarankan adanya sanksi seperti pelaku perlu dipindahkan dulu untuk ke fasilitas yang memperbaiki perilakunya. Pelaku perlu fokus diajarkan keterampilan sosial dan kognitif untuk mengatasi masalah pertemanan dan sekolah.

"Selain itu pelarangan SOTR bagi kelompok yang terbukti pernah rusuh nampaknya bisa dipikirkan oleh pemerintah dibantu pihak kepolisian. Sekolah juga bisa ikut andil dengan memberikan sanksi pada siswanya yang terbukti terlibat SOTR agresif, seperti akan diskors atau tidak bisa mengambil rapot atau tanda lulusnya, dan sebagainya," tandasnya.

(ask/up)