Jumat, 17 Mei 2019 19:29 WIB

True Story

Salah Satu Wanita Terpintar di California Terserang Stroke

Widiya Wiyanti - detikHealth
Salah satu wanita terpintar di California yang juga seorang profesor terserang stroke di usia 53. Ia pun tidak bisa bergerak dan berbicara. Foto: Ilustrasi/Thinkstock Salah satu wanita terpintar di California yang juga seorang profesor terserang stroke di usia 53. Ia pun tidak bisa bergerak dan berbicara. Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Debra Meyerson (61) adalah seorang profesor di Universitas Stanford dan merupakan salah satu wanita terpintar di negara bagian California. Namun saat di usia 53, ada hal tak terduga dialami olehnya.

Dikutip dari New York Post, Debra mengalami kesemutan parah di kaki kanannya saat tengah berlibur. Perjalanan yang jauh pun membuat kepalanya sakit pula.

Beberapa hari telah berlalu, ia menyadari bahwa gerakan tubuhnya melambat dari sebelumnya. Bahkan sering membuatnya terjatuh. Tak lama kemudian sisi kanan tubuhnya hampir lumpuh total, ia tidak bisa menggerakkan lengannya sama sekali. Debra terkena stroke.

"Bicara saya menjadi tidak jelas, kemudian melemah, dan terhambat," tulisnya dalam memoarnya, 'Identity Theft: Rediscovering Ourselves After Stroke'.

Baginya yang seorang akademisi, tidak bisa berbicara tidak lebih baik daripada kehidupan di dalam sel. Namun saat terapis menemuinya, terapis tersebut mengatakan bahwa Debra bisa menyanyikan melodi sebuah lagu namun tidak bisa berbicara. Ini dikarenakan stroke memengaruhi otak bagian kiri Debra, yang artinya mengontrol bicara, sedangkan melodi dikendalikan otak sisi kanan.


Ia pun menjalani perawatan intensif terapi fisik dan bicara dan juga rehabilitasi. Debra benar-benar bisu selama tiga minggu setelah terserang stroke.

"Yang tersulit bergulat untuk memahami identitas saya sendiri... (Stroke) menghilangkan kemampuan saya untuk bekerja seperti yang saya lakukan sebelumnya, banyak dari kemampuan saya dan banyak bagian kehidupan yang telah saya bangun selama lima dekade," tulisnya.

Mengajar telah menjadi panggilan jiwa ibu dari tiga anak itu. Meskipun begitu, ia akhirnya fokus pada perawatan dan telah menemukan hal baru yang lebih positif daripada memikirkan karirnya.

Ia memperkaya hidupnya dengan keluarga, kebugaran, dan advokasi. Debra menghabiskan waktunya dengan liburan bersama keluarga, hiking, hingga mengunggang kuda.

Meskipun meninggalkan sedikit kecacatan, Debra yakin kondisinya terus membaik. Kini, sembilan tahun setelah serangan stroke, kondisi Debra jauh lebih baik.

"Membangun kembali kehidupan yang penuh sukacita dan makna, itulah yang sangat penting," tandas Debra.

(wdw/up)
News Feed