Kamis, 23 Mei 2019 19:10 WIB

Kerja Keras Tenaga Kesehatan Amankan Kerusuhan Aksi 22 Mei

Widiya Wiyanti - detikHealth
IGD RS Tarakan (Foto: M Fida/detikcom) IGD RS Tarakan (Foto: M Fida/detikcom)
Jakarta - Aksi 22 Mei banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia bahkan dunia. Aksi tersebut bahkan mengharuskan pihak terkait untuk bekerja lebih lama dibanding biasanya, seperti tenaga kesehatan (nakes).

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Widyastuti, MKM menyebut, para nakes harus bekerja dalam sistem 3 shift karena bertepatan juga dengan bulan puasa. Namun ini bukan pertama kalinya, saat ada kejadian besar, para nakes memang bekerja lebih berat lagi.

"Kalau di kami sudah bikin, SOP ini kan bukan hanya untuk pada saat kasus kemarin. Kami sudah ada SOP kalau kami memberi dukungan kesehatan seperti contoh Asian Games, arus mudik seperti ini," ujarnya saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (23/5/2019).



"Kami bikin shift karena puasa jadi shiftnya 3, aplusannya di tiap jam siang, sore dan malam. Termasuk yang di lapangan, ambulans lapangan kita bikin 3 (shift). Kita ada ambulans terdekat yang kita dorong, begitu ini capek ada ambulans pengganti yang sudah siap," lanjut dr Widyastuti.

Ambulans yang dikerahkan pun bukan hanya dari Dinas Kesehatan setempat, dr Widyastuti juga menyebut ambulans dari jajaran puskesmas, rumah sakit, bahkan PMI (Palang Merah Indonesia) turut membantu pada aksi itu.

"Pada prinsipnya adalah bagaimana mempercepat evakuasi pasien ketika membutuhkan pertolongan dengan cepat," tandasnya.



(wdw/up)