Selasa, 28 Mei 2019 07:17 WIB

Round Up

Menghadapi Ancaman Kejahatan 'Hipnotis' Saat Mudik Lebaran

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi hipnotis. Foto: Istock Ilustrasi hipnotis. Foto: Istock
Jakarta - Seiring mendekati lebaran aktivitas lalu-lalang penumpang di tempat umum seperti terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara juga meningkat. Padatnya arus mudik ini rentan dimanfaatkan oleh orang-orang dengan niat jahat.

Sebagai contoh kita mungkin pernah mendengar kabar ada pemudik yang jadi korban 'hipnotis'. Diceritakan para korban didekati dengan cara ditepuk pundaknya, terhipnotis, lalu ketika sadar hartanya sudah raib.

Menanggapi hal ini dr Wira Prasetya, SpKFR, dari Perkumpulan Praktisi Hipnosis dan Hipnoterapi Seluruh Indonesia (PRAHIPTI) menjelaskan bahwa yang sebetulnya terjadi kebanyakan adalah kasus penipuan. Kadang penipuan tersebut dikombinasikan dengan berbagai modus lain seperti copet yang mengalihkan perhatian atau pemberian makan dan minum berisi obat bius.


Hipnotis atau hipnosis sendiri pada dasarnya tidak bisa dilakukan sembarangan karena tidak dapat memaksa orang-orang untuk melakukan sesuatu di luar kehendak.

"Hipnosis adalah sebuah seni untuk menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata atau kalimat verbal ke dalam diri seseorang sehingga yang bersangkutan dapat tergerak/termotivasi untuk melaksanakan pesan yang dimaksud. Namun pesan tersebut tidak akan diproses bila bertentangan dengan nilai dan sistem kepercayaan orang tersebut," papar dr Wira dalam keterangan yang diterima detikHealth pada Senin (27/5/2019).

Untuk menghindari kejadian tidak diinginkan dr Wira menyarankan agar para pemudik menjaga fokusnya selama perjalanan. Jangan mudah tergiur, teralihkan perhatian, dan berhati-hati terhadap orang asing yang mendekat mengajak berbicara atau menawarkan makanan serta minuman.

Jangan mudah tergiur oleh berbagai hal, ingat tujuan anda mudik adalah kembali berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman," kata dr Wira.

Punya pengalaman tentang hipnotis? Ceritakan di komentar ya, atau kirim ke redaksi@detikHealth.com.

(fds/up)
News Feed