Jumat, 07 Jun 2019 10:05 WIB

Mengenal Autisme, Penyebab Anak Indonesia Terancam Dideportasi dari Australia

Widiya Wiyanti - detikHealth
Dimas Tri Wibowo dan keluarga terancam dideportasi dari Australia karena autisme. Foto: ABC Australia Dimas Tri Wibowo dan keluarga terancam dideportasi dari Australia karena autisme. Foto: ABC Australia
Jakarta - Sebuah keluarga yang tinggal di Australia terancam dideportasi karena salah satu anaknya Dimas Tri Wibowo mengidap autisme dan dianggap bisa membebani layanan kesehatan dan masyarakat.

Seorang profesor di Australian National University (ANU) Dr Cameron Gordon mengajukan petisi online kepada Menteri Imigrasi, Kewarganegaraan, Layanan Migran, dan Urusan Multikultural Australia agar menganulir keputusan penolakan visa tinggal permanen untuk Dimas.

Dikutip dari Web MD, autisme adalah kondisi neurobehavioral (hubungan antara fungsi otak dan perilaku) yang mencakup gangguan dalam interaksi sosial dan perkembangan bahasa serta keterampilan komunikasi yang dikombinasikan dengan perilaku berulang. Kondisi autisme juga disebut gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD).



Anak-anak dengan autisme mungkin memiliki gerakan tubuh yang berulang dan stereotip seperti bergoyang, berjalan, atau mengepakkan tangan. Mereka juga memiliki respon yang tak biasa terhadap orang lain, ketertarikan pada suatu objek, penolakan terhadap perubahan dalam rutinitas, atau perilaku agresif.

Beberapa orang dengan autisme mengalami gangguan kognitif sampai tingkat tertentu, seperti perkembangan kognitif yang tertunda. Bisa juga memiliki masalah pada kemampuan berkomunikasi dan behubungan dengan orang lain. Namun biasanya mereka memiliki keterampilan yang luar biasa di bidang lain, seperti menggambar, menciptakan musik, memecahkan masalah matematika, atau menghafal.

Gejala autisme biasanya muncul pada tiga tahun pertama kehidupan, meskipun ada yang menunjukkan tanda sejak lahir. Menurut penelitian, autisme empat kali lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Dikutip dari Medical News Today, autisme juga memiliki hubungan dengan kondisi medis lainnya, seperti epilepsi dan kompleks tuberous sclerosis. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), diperkirakan 20-30 persen orang dengan ASD mengembangkan epilepsi pada saat mereka mencapai masa kanak-kanak.



Tidak Mudah Melatih Atlet Penyandang Autisme:

[Gambas:Video 20detik]

(wdw/frp)
News Feed