Minggu, 09 Jun 2019 12:24 WIB

Stres Kerja hingga 48 Jam, Seorang Dokter Jadi Kecanduan Narkoba

Rosmha Widiyani - detikHealth
Polisi mengungkap 35 Kilogram sabu, yang ternyata dikonsumsi dokter akibat stres pekerjaan. Foto: Pengungkapan Sabu 35 Kg (Ibnu-detikcom) Polisi mengungkap 35 Kilogram sabu, yang ternyata dikonsumsi dokter akibat stres pekerjaan. Foto: Pengungkapan Sabu 35 Kg (Ibnu-detikcom)
Jakarta - Stres karena jam kerja yang terlalu lama, seorang dokter mengaku sempat kecanduan narkoba sebelum menjalani rehabilitasi. Dokter Sasitharan Ayani yang kini bekerja di sebuah rumah sakit di Johor Baru, Malaysia mengatakan harus bekerja hingga 48 jam tanpa istirahat.

Dikutip dari The Star, Dr Sasitharan yang kini berusia 39 tahun merupakan lulusan sekolah kedokteran Rusia. Dengan jam kerja yang sangat panjang, dia mengatakan perlu sesuatu untuk meningkatkan energi hingga akhirnya kecanduan.

"Saya pertama kali konsumsi metamphetamine sekitar 9 tahun lalu, saat stres karena pekerjaan. Awalnya hanya ingin booster dengan jam kerja yang sangat panjang. Saya pikir tidak mungkin kecanduan karena saya dokter sehingga bisa mengontrol jumlah konsumsi tapi ternyata salah," kata Dr Sasitharan.


Metamphetamine atau crystal meth lebih dikenal sebagai narkoba jenis sabu. Dr Sasitharan akhirnya sadar kecanduan, ketika tahu tidak bisa berfungsi dengan baik tanpa konsumsi metamphetamine. Dia akhirnya memeriksakan diri ke Rumah Pengasih yang merupakan program rehabilitasi sekitar 6 tahun lalu.

Namun, Dr Sasitharan terpaksa meninggalkan program tersebut sekitar 2017 saat ayahnya berpulang. Saat itu Dr Sasitharan belum pulih sepenuhnya yang berisiko kembali mengalami kecanduan narkoba (relapse). Hal ini benar terjadi sekitar 6 bulan lalu, karena Dr Sasitharan mengalami depresi dan mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari saudaranya.

Sekitar 2 bulan lalu Dr Sasitharan kembali ke Rumah Pengasih untuk melanjutkan rehabilitasi. Menurutnya kecanduan metamphetamine mengakibatkan hidupnya berantakan, mudah marah, dan mengalami perubahan mood dengan cepat. Pernikahannya batal 20 hari sebelum hari H karena ketergantungan narkoba.


Menurut pimpinan Rumah Pengasih Ramli Abd Samad, kasus narkoba saat ini beda dengan tahun sebelumnya. Narkoba tidak lagi digunakan dengan tujuan bersenang-senang. Narkoba sudah mampu meningkatkan mood, energi, dan konsentrasi yang sesuai kebutuhan beberapa orang.

"Dengan kasus ini, pemerintah harus menangani kasus ini dengan lebih serius. Kasus stres dan depresi harus punya penanganan sendiri lengkap dengan support system, sehingga pengguna berisiko kecil mengalami relapse," kata Ramli.

(frp/frp)
News Feed