Rabu, 12 Jun 2019 14:02 WIB

Roro Fitria Takut Pakai Sabu Lagi, Begini Gejala Seseorang Tengah Sakau

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Artis Roro Fitria, takut pakai narkoba lagi ketika menghirup udara bebas. Foto: Hanif Hawari Artis Roro Fitria, takut pakai narkoba lagi ketika menghirup udara bebas. Foto: Hanif Hawari
Jakarta - Roro Fitria takut menghirup udara bebas karena merasa masih sakau. Roro Fitria jadi takut ia akan memesan sabu lagi dan memakainya jika keluar dari penjara.

"Masih. Makanya pas keluar dia takut makai lagi," ujar Asgar Sjarfi, kuasa hukum Roro saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Roro diberitahu nanti BNN akan lihat, nanti akan mengirimkan dokter, akan mengirimkan psikolog, akan mengirimkan tim ahli lain lagi atau perlu direhab di dalam atau di luar," kata Asgar.


Menurut dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN), rehabilitasi narkoba pertama-tama haruslah menjalani proses penilaian untuk mencari tahu gambaran permasalahan yang dihadapi pengguna.

Assessment ini meliputi pola pemakaian narkobanya, kondisi medis, kondisi keluarga atau sosialnya, dukungan psikosial termasuk pekerjaan, kondisi kesehatan jiwa dan juga terkait permasalahan hukum. Pada awal terkait pola dan kondisi medis, pasien akan dinilai apakah mengalami gejala putus zat, dan atau intoksikasi.

Gejala putus zat atau dikenal juga sakau atau sakaw menimbulkan beberapa gejala, tergantung zat yang digunakan. Misalnya putaw atau heroin, gejala putus zat yang timbul nyeri di sendi dan otot, kram perut, diare, hidung jadi meler seperti orang pilek, sering menguap, bulu kuduk bberdiri, atau mata berair dan merah.

"Jika pasien mengalami kondisi putus zat maka akan ditangani sesuai protokol pengobatan yang terstandar. Begitu juga dengan mereka yang mengalami intoksikasi apalagi yang mengancam nyawa seperti overdosis, akan ditangani sesuai protokol yang berlaku."


Dikutip detikHealth beberapa waktu lalu, psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera dr Andri, SpKJ, FAPM, mengungkapkan bahwa sabu-sabu atau methamphetamin adalah jenis psikotropika yang menstimulasi kerja otak.

"Jadi dia membuat itu high. Biasanya yang gunakan sabu itu tidak capek, tidak usah tidur, bahkan bisa fokus lama-lama. Mirip dengan stimulan lain seperti kokain. Kokain juga begitu kan. Dan memang ada orang yang menggunakannya untuk menambah tenaga dan menambah gairah seksual," ucapnya.

Efek penggunaan sabu-sabu bermacam-macam sesuai bentuk dari narkoba tersebut. Apabila dihirup seperti rokok, reaksinya sudah dapat dirasakan dalam hitungan beberapa menit saja. Sementara reaksi yang timbul apabila dikonsumsi dengan ditelan efeknya dapat muncul kurang lebih 20 menit setelahnya.

Efek samping dari penggunaan sabu-sabu baru akan terasa mulai dari 4 hingga 12 jam kemudian. Durasi efek sampingnya bisa berlangusng sampai dengan 24 jam.

"Reaksi balik yang dirasakan yakni konsentrasi berkurang drastis, sakit kepala, depresi, dan kelelahan. Pada saat inilah biasanya kecanduan mulai timbul," pungkasnya.

(ask/fds)
News Feed