Kamis, 13 Jun 2019 10:52 WIB

Marak Video Prank, Iseng Doang atau 'Abuse' Terselubung?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Foto: Prank pocong ABG kagetkan ibu-ibu (istimewa) Foto: Prank pocong ABG kagetkan ibu-ibu (istimewa)
Jakarta - Nampaknya prank alias ngerjain teman lagi viral dan ramai dilakukan. Coba buka YouTube, banyak sekali video prank beredar yang dilakukan oleh sejumlah influencer. Ada yang memancing gelak tawa, tapi ada juga yang membuat rasa emosi memuncak.

Baru-baru ini prank dengan menghancurkan make up milik kekasih berhasil bikin netizen marah-marah. Meski sudah berdamai dengan pasangannya, warganet masih tetap saja merasa kesal.

"Prank gak gitu juga kaleee, merugikan orang lain, bayangkan beli nya ajjah nyicil satu2, gimana gak nyesek, auto gue putus cowok kaya gitu," komentar seorang netizen.

"Klian bisa gak sih gak usah bilang goblok"segala. Pacarnya aja maafin lh emang klian siapanya sih," bela yang lainnya.



Sebenarnya prank itu apa sih? Ni Made Diah Ayu Anggreni, MPsi, Psikolog, menjelaskan bahwa prank sebenarnya masuk ke dalam kategori permainan yang tujuannya untuk meramaikan (memeriahkan) suasana dengan mengecoh orang lain melalui usaha mengaburkan logika dan realita.

"Contohnya seperti pada saat seseorang ulang tahun, temannya mencampurkan garam (secukupnya) ke teh (logikanya kan teh tidak ada rasa ataupun kalau ada rasa adalah manis maka orang akan terkecoh ketika meminum teh tapi rasanya asin). Namun prank ini tidak berbahaya karena sudah dipikirkan dengan baik terkait ingredient-nya," jelasnya.

Akan tetapi, celakanya prank seringkali dianggap lebih sukses ketika berhasil memunculkan reaksi emosi negatif yang hebat dari orang yang di-prank seperti panik, takut, menangis tersedu-sedu, menunjukkan amarah hebat (muka merah, menghancurkan barang, atau mengeluarkan kata-kata kasar).

"Ini bukan prank... ini adalah perilaku abusif berselubung prank ("ini cuma prank kok"). Sama dengan melakukan bully berselubung jokes ("cuma bercanda"). Perilaku ini sama sekali tidak dapat dibenarkan dan untuk beberapa prank dapat hingga diproses hukum," tutur Veronica Adesla, MPsi, Psikolog, kepada detikHealth.

Meski tahu video prank kerap memicu pro kontra, pihak yang tidak bertanggung jawab masih saja kerap melakukannya karena konten ini sering mengundang banyak atensi dari masyarakat. Sekalipun atensi tersebut tidak selalu positif namun ia dapat menjadi popular ataupun hits akibat prank yang dilakukannya ini dilihat atau menjadi sorotan banyak orang.

"Maka berhentilah mensukseskan prank demikian dengan cara tidak menyiarkan, menonton, ataupun mengakses konten tersebut," saran Veronica.

Bukan cuma menyalahkan influencer, netizen pun juga harus lebih bijak dalam mencermati konten prank tersebut. Bagaimana juga salah satu hal yang diperhatikan YouTuber dan para selebgram adalah konten-konten yang menarik dan tidak bosan untuk ditonton.

"Namun saya mengacungkan dua jempol untuk Youtuber dan influencer yang tidak hanya peduli dengan keuntungan pribadi namun juga memperhatikan kualitas konten yang berbobot dan dapat memberikan dampak atau pengaruh positif bagi masyarakat," puji Veronica pada akhir wawancara.

(ask/up)
News Feed