Rabu, 26 Jun 2019 07:14 WIB

Ingin Reproduksi di Luar Angkasa? Aman, Sperma Tak Terpengaruh Gravitasi

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi sperma pria di luar angkasa tidak terpengaruh gravitasi. Foto: Thinkstock Ilustrasi sperma pria di luar angkasa tidak terpengaruh gravitasi. Foto: Thinkstock
Jakarta - Riset membuktikan, kualitas sperma tak berubah meski terpapar teknologi luar angkasa. Konsentrasi, kebebasan bergerak, vitalitas, bentuk, dan fragmentasi DNA pada sperma tetap sama.

Hasil riset ditampilkan pada European Society of Human Reproduction and Embryology di Wina, Austria pada Senin (24/6/2019) waktu setempat. Riset dipimpin Dr Montserrat Boada dari Dexeus Women's Health, Barcelona.

"Kualitas sperma sama antara sebelum dan setelah terpapar simulasi kehidupan luar angkasa. Dengan makin meningkatnya misi luar angkasa dengan durasi yang makin lama, maka kita harus menghadapi risiko paparan kehidupan luar angkasa pada sperma. Selain itu tidak ada salahnya mulai berpikir kemungkinan reproduksi di luar angkasa," kata Dr Boada dikutip dari CNN.



Dalam risetnya peneliti menggunakan sperma beku bukan dalam bentuk segar. Hal ini untuk menekan risiko penurunan kualitas dan viabilitas yang mungkin dialami sperma segar. Sperma beku kemudian terpapar kondisi gaya gravitasi rendah (microgravity) selama beberapa detik.

Meski begitu, hasil riset ini tidak bisa langsung diaplikasikan. Menurut Dr Boada, riset ini merupakan pemula yang masih perlu studi pendukung lain. Misal meningkatkan durasi penyimpanan dalam kondisi microgravity. Studi sperma juga harus berhadapan dengan hasil riset sebelumnya terkait kesehatan para astronot.

Riset menyatakan, astronot berisiko mengalami kerapuhan tulang, terhentinya pertumbuhan otot, dan kehilangan volume darah. Perjalanan luar angkasa juga meningkatkan risiko mengalami kanker. Studi juga membuktikan, radiasi benda luar angkasa berefek jangka panjang pada fungsi otak terkait pembelajaran, memori, multitasking, dan kesehatan mental. Semakin lama di luar angkasa maka makin besar risiko mengalami herpes, cacar air, dan herpes zoster.

(up/up)