Kamis, 27 Jun 2019 17:25 WIB

Polusi Udara di Jakarta Tinggi, Masker 'Ojol' Tak Cukup untuk Menangkalnya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi polusi Jakarta. (Foto: Ilustrator: Edi Wahyono) Ilustrasi polusi Jakarta. (Foto: Ilustrator: Edi Wahyono)
Jakarta - Polusi udara di Jakarta menjadi permasalahan yang mendunia saat ini. Pasalnya, polutan di Jakarta disebut sangat tinggi dan membahayakan penduduk.

Sebagai upaya menghalau debu, masyarakat sering terlihat menggunakan masker hijau atau masker 'ojol'. Sayangnya, spesialis paru dari Omni Hospital Pulomas, dr Frans Abednego Barus, SpP, menyebut pemakaian masker kadang tidak sesuai sehingga tak mempan halau debu.

"Pakainya salah. Maskernya harus menutupi hidung dan mulut. Kadang-kadang maskernya hanya menutupi di bawah hidung. Ya nggak ada gunanya," katanya kepada detikHealth, Kamis (27/6/2019).

dr Frans melanjutkan masker 'ojol' tidak diperuntukkan untuk menghalau partikel atau virus dari luar untuk masuk dan menyerang tubuh. Masker hijau lebih digunakan untuk mengisolasi diri saat sedang sakit.



"Misalnya gini kalau kamu sedang flu, kamu pakai masker sehingga orang lain tidak tertular. Bukan kamu dilindungi dari partikel luar. Kamu memproteksi orang dengan mengisolasi dirimu dengan masker itu hingga orang lain aman," jelas dr Frans.

"Karena saringan udara masker hijau itu nggak cukup kecil. Partikel debu masih lewat," tambahnya.

Ia menyarankan jika ingin terlindungi dari paparan polusi dan debu, baiknya menggunakan masker tipe N95. Hanya saja kekurangannya yakni jika dipakai membuat napas terasa sesak. dr Frans pun menyebut penggunaan masker lain seperti masker 'ojol' sebenarnya tidak berguna.

"Penggunaannya tidak berguna apalagi saputangan. Mending nggak usah dipakai karena tidak memberi manfaat secara bermakna," pungkasnya.



Simak Video "Cara Natasha Rizky Lindungi Keluarga dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)