Jumat, 05 Jul 2019 17:01 WIB

Ternyata, Virus Flu Singapura Bisa Kalahkan Kanker Kandung Kemih

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi kanker. Foto: thinkstock Ilustrasi kanker. Foto: thinkstock
Jakarta - Riset membuktikan virus Flu Singapura ternyata bisa membantu mengalahkan sel kanker kandung kemih. Studi yang dilakukan University of Surrey menggunakan coxsackievirus yang merupakan penyebab Flu Singapura atau Infeksi Kaki, Tangan, dan Mulut (IKTM). Gejala khas IKTM adalah munculnya ruam merah tidak gatal menjadi bintil merah berisi cairan, yang bisa pecah dan meninggalkan luka lecet.

"Virus ini masuk ke dalam sel kanker dan membunuhnya dengan merangsang produksi protein imun. Komponen daya tahan tubuh lain kemudian ikut bergabung dan memerangi sel kanker. Kerja virus terbukti mampu mengurangi ukuran tumor dan menurunkan pertumbuhan sel kanker pada pasien," kata pimpinan riset Prof Hardev Pandha dikutip dari BBC.

Coxsackievirus juga menghapus jejak penyakit dari dalam tubuh pasien sekitar 1 minggu setelah terapi. Hal ini membuktikan, coxsackievirus efektif untuk pengobatan dan mencegah sel kanker tumbuh kembali. Kanker kandung kemih atau yang biasa disebut non-muscle invasive bladder (NMIBC) adalah salah satu kanker paling umum di Inggris dengan 10 ribu kasus per tahun.

Riset dilakukan pada 15 pasien kanker dengan memasukkan cancer-killing coxsackievirus (CVA21) pada tubuh pasien. Virus dimasukkan melalui kateter pada 1 minggu sebelum operasi kanker. Sel kemudian dianalisa setelah operasi dan pemberian CVA21. Setelah membunuh, CVA21 memperbanyak diri dan menginfeksi sel kanker lain yang ada di dalam tubuh. CVA21 tidak berdampak buruk bagi sel sehat yang ada di sekitar sel kanker.


Hasil riset ini disambut baik Ketua Action Bladder Cancer UK Allen Knight. yang menganggap CVA21 bisa menjadi revolusi teknik pengobatan kanker kandung kemih. Penyakit ini cenderung bertambah tiap tahun di Inggris, yang mengindikasikan beban National Health Security (NHS) makin besar. Riset ini masih dalam tahap awal yang harus dilanjutkan sebelum diterapkan di masyarakat.

"Keamanan, efektivitas, dan toleransi CVA21 harus bisa dikonfirmasi dalam riset yang lebih besar. Riset dan uji klinis akan memastikan era baru dalam dunia pengobatan kanker kandung kemih. Inovasi yang menguntungkan pasien ini harus terus dikembangkan hingga bisa diterapkan pada pasien," kata Knight.

Selain aman, minim efek samping menjadi faktor penting dan pembeda antara CVA21 dan terapi kanker lain. Dengan efek samping yang minim, pasien kanker bisa cepat pulih dan beraktivitas kembali.



Simak Video "Kenali Metastasis dan Proteksi Dini Tumor Ganas"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)