Rabu, 10 Jul 2019 16:56 WIB

Gelisahnya Para Perokok Pasif, Tak Merokok Tapi Ikut Kena Risiko Kanker Paru

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Seruan untuk berhenti merokok sudah kerap dikampanyekan (Foto: Ayunda Septiani/detikHealth) Seruan untuk berhenti merokok sudah kerap dikampanyekan (Foto: Ayunda Septiani/detikHealth)
Jakarta - Dalam sebuah video yang viral belakangan ini, mendiang Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa ia adalah perokok pasif dengan banyaknya perokok berat di sekitarnya. Ia menyebut, kemungkinan dari situlah ia terkena kanker paru yang merenggut nyawanya pada Minggu (7/7) lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa rokok bertanggungjawab atas 22 persen kematian akibat kanker. Tak hanya perokok aktif, para perokok pasif alias second hand smoker juga terkena imbasnya.

Menanggapi hal ini, Aisyah (23), seorang pekerja swasta di Jakarta mengaku sangat sedih karena gaung untuk setop merokok di ruang publik sudah cukup gencar dan kebanyakan sudah memahami bahayanya asap rokok, namun tetap saja masih banyak perokok yang merokok sembarangan.



"Banyak yang bilang kena kanker itu 'takdir', mau sehat mau nggak ya kalo udah ketentuan bakal kena. Ya betul, kanker itu takdir tapi kita nggak tahu kan pemicu kanker itu muncul dari apa. Siapa tahu justru dari asap rokok orang lain. Pernah tahu kan takdir itu ada yang bisa diubah dan ada yang mutlak. What if dengan berhenti ngerokok sebenernya kamu udah ngebantu 'jalan' orang lain untuk nggak mengalami penderitaan?" tutur Aisyah kepada detikHealth, Rabu (10/7/2019).

Sementara Adhe Tora (25), seorang Youtuber di Jakarta Selatan mengaku sudah tahu risikonya sebagai seorang perokok pasif yang berkecimpung dengan perokok. Dan ia menyebut bahwa cukup banyak teman di lingkungannya yang paham jika ingin merokok di dekatnya setidaknya meminta izin terlebih dahulu.

Lain lagi dengan Rosyadi, sesekali ia juga ikut merokok. Namun ia sering kesal dengan asap rokok yang sangat mengganggu. Dengan banyaknya info soal risiko baik menjadi perokok pasif maupun aktif, Rosyadi berusaha keras untuk menghindarinya.



Mengapa secondhand smoker juga bisa berisiko tinggi? American Lung Association menyebutkan perokok pasid memiliki 20-30 persen risiko terkena kanker paru apabila terpapar dengan lingkungan perokok di rumah atau kantor.

Karsinogen dalam asap rokok dan partikel lainnya yang dapat terhisap dapat berkontak langsung DNA dari sel-sel paru. Karena seluruh paru-paru terpapar karsinogen yang terhisap, sel-sel kanker bisa bertumbuh di beberapa tempat, menurut World Cancer Research Fund International.

Spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Elisna Syahruddin, SpP(K) PhD, pernah mengatakan kepada detikHealth bahwa kanker paru sebenarnya merupakan penyakit yang mudah dicegah. Salah satu cara yang bisa dilakukan tentunya dengan mengendalikan faktor risiko tertinggi yakni kebiasaan merokok.

"Pencegahan pertama, jangan pernah jadi perokok. Kedua, stop merokok. Sebab, ketika seseorang berhenti merokok, sel-sel yang jadi tidak normal akibat merokok, masih bisa kembali normal. Ketiga, kalau memang bandel juga masih merokok, cek dong kesehatannya dengan rutin. Terus kalau ada orang merokok distop, jangan didiemin aja," tandasnya.



Simak Video "Mengenang Sutopo: Kanker, Kucing, dan Raisa"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)