Selasa, 16 Jul 2019 07:33 WIB

Drama Masuk Sekolah, Rebutan Kursi hingga Berangkat Subuh Antar Anak

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Beberapa orang tua menemani anak di hari pertama sekolah. (Foto: Agung Pambudhy) Beberapa orang tua menemani anak di hari pertama sekolah. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Tahun ajaran baru dimulai pada hari ini, Senin (15/7). Ada banyak fenomena yang mewarnai hari pertama sekolah mulai dari bangku SD hingga SMA di berbagai belahan provinsi di Indonesia.

Misalnya ratusan siswa SMP di Makassar yang berlarian masuk kelas untuk berebut bangku. Beberapa ditemani orang tuanya agar mendapat kursi dan kelas yang diinginkan. Bahkan, sebagian orang tua lain telah berada di ruangan kelas agar anaknya bisa duduk di bagian depan.

Beda lagi dengan para orang tua di Kabupaten Bandung dan Tasikmalaya, yang rela sejak subuh datang ke sekolah agar anak mereka duduk di bangku barisan paling depan. Terlihat juga beberapa anak enggan sampai menangis ditinggal orang tuanya saat bel masuk sekolah berbunyi.

Psikolog pendidikan Nabila Dian Nirmala, SPsi, MPsi menyoroti soal mentalitas orang tua pada fenomena tersebut. Hal ini disebabkan mentalitas kita yang tumbuh karena takut gagal dan ingin selalu berhasil.


"Jadi kalau kita bicara soal motivasi, itu ada dua: motivasi untuk berhasil atau motivasi untuk tidak gagal. Nah kita ini lebih banyak termotivasi oleh 'kalo bisa gue jangan gagal deh', alih-alih kita mengupayakan untuk 'yuk kita supaya berhasil kita harus gimana ya?'" katanya kepada detikHealth, Senin (15/7/2019).

Ia mencontohkan fenomena rebutan bangku, yang mungkin dimotivasi oleh keinginan tidak mau anak gagal. Kepercayaan ini sering beredar di antara orangtua, bahwa anak yang duduk di belakang kemungkinan besar akan gagal.

Namun ia juga menegaskan soal ini bukan sepenuhnya salah orangtua. Ada peranan dari sistem sekolah dan guru-guru yang mungkin kurang suportif terhadap cara belajar masing-masing anak di manapun mereka duduk.

Oleh karena itu, Dian menyebut orangtua sebaiknya pelan-pelan bergerak dari motivasi takut gagal menjadi bagaimana sang anak bisa berhasil. Mau sang anak duduk di belakang atau depan, terima dengan legowo dan mulai berpikir mengajak anak untuk berhasil.

"Karena kepanikan atau kecemasan orang tua ini pasti akan menurun ke anak. (Jadinya) mempengaruhi si anak belajarnya jadi penuh tekanan lah, 'Kalau aku duduk di belakang nanti aku bodoh'. Itu akan panjang banget rantainya nantinya," tandas Dian.



Simak Video "Kata Dokter Jiwa soal Ramai 'Keluhan' Pasca Nonton Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)