Kamis, 18 Jul 2019 12:45 WIB

Kontroversi Sistem Ujian Sekolah di India, 23 Anak Sampai Bunuh Diri

Firdaus Anwar - detikHealth
Ujian sekolah bisa menempatkan tekanan mental bagi anak. (Foto: Thinkstock) Ujian sekolah bisa menempatkan tekanan mental bagi anak. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Sistem ujian kelulusan di Sekolah Menengah Atas (SMA) India kini menjadi sorotan. Hal ini menyusul 23 kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak, sebagian besar karena alasan merasa digagalkan oleh sistem.

Sebagai contoh seorang siswi bernama Thota Vennela memilih mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga. Menurut pengakuan keluarga Vannela yang sempat dirawat di rumah sakit merasa kecewa karena dinyatakan tidak lulus ujian sekolah.

"Vennela terus bergumam kenapa dirinya tidak lulus... Kami membujuknya bilang kalau semua baik-baik saja dan dia masih bisa mengajukan permohonan evaluasi ulang atau ikut ujian lagi. Tapi di rumah sakit sekalipun dia terus bergumam, 'saya seharusnya lulus,'" kenang sang ibu, Sunitha, seperti dikutip dari BBC pada Kamis (18/7/2019).


Ujian kelulusan SMA di India diketahui memiliki persaingan ketat karena nilainya bisa menentukan di mana seorang anak bisa kuliah. Ada tekanan untuk meraih nilai setinggi mungkin sehingga mereka bisa kuliah di kampus favorit.

Perusahaan software Globarena Technology berada di tengah kontroversi ini karena jadi pihak yang ditunjuk pemerintah India untuk melakukan penilaian. Sebelumnya terdapat kesalahan yang membuat hasil sekitar 1.137 siswa dinyatakan gagal, namun setelah revisi ternyata lulus.

Satu kasus bahkan melihat ada siswa yang sebelumnya diumumkan mendapat nilai 0 jadi berubah ke angka 99 setelah dilakukan pengkajian ulang.

Dengan protes yang semakin tinggi kelompok pembela hak anak mengajukan gugatan ke pengadilan.



Simak Video "Kenali Gejala Depresi yang Dialami Sulli dan Taeyeon SNSD"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)