Jumat, 19 Jul 2019 14:20 WIB

Salmafina Akui Sempat Alami Insomnia Akut, Depresikah Penyebabnya?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Salmafina mengaku pernah mengalami insomnia akut. (Foto: dok. TransTV Official) Salmafina mengaku pernah mengalami insomnia akut. (Foto: dok. TransTV Official)
Jakarta - Belakangan ini, nama Salmafina Sunan kerap menjadi perbincangan usai dirinya mengumumkan berpindah keyakinan. Di balik semua kehebohan itu, Alma, sapaannya, mengaku pernah mengalami insomnia akut usai perceraiannya dulu dengan Taqy Malik yang nyaris mendorongnya untuk bunuh diri.

"Meningkat awalnya insomnia, ada masalah sedikit desperate bawaannya mau bunuh diri aja kan," akunya, seperti dikutip dari detikHOT, Jumat (19/7/2019).

Alma juga bercerita usai ke dokter justru konsumsi obat tidurnya semakin tinggi. Selama setahun insomnia akut tersebut membuatnya sangat tersiksa. Lalu, apakah insomnia bisa menyebabkan depresi, ataukah sebaliknya?

Depresi dan insomnia memiliki gejala yang hampir sama. Salah satu gejala awal dari depresi adalah insomnia, di mana pengidap depresi akan kesulitan tidur atau tidur sangat lama.


Cara termudah mendiagnosis seseorang menderita depresi atau tidak adalah dengan melihat kebiasaan tidur mereka. Saat seseorang mulai depresi, soal tidur ini akan menjadi masalah utama yang mereka rasakan.

Dikutip dari Psychology Today, seseorang yang mengalami episode depresi kerap membutuhkan bantuan pil tidur, kadang hingga putus asa. Saat mendapatkannya, secara umum mereka akan merasa lebih baik, namun hanya sesaat.

Selama depresinya tidak ditangani, masalah tidur ini akan terus menggentayangi atau bahkan bisa lebih parah. Konsumsi obat tidur akan berhenti, dan terapi perilaku dan lainnya akan menjadi gagal.

"Seringkali aku melihat orang depresi mengonsumsi banyak obat tidur walau pada nyatanya mereka malah makin sulit tidur. Sedihnya, aku bilang pada mereka bahwa sampai depresinya tertangani lebih baik mereka mungkin tak akan tidur dengan benar. Tidur bisa jadi hal terakhir yang bisa normal pada episode depresif," kata terapis Matthew J Edlund, MD, penulis buku The Power of Rest.

Sehingga, menurut Matthew, banyak orang termasuk pada ahli tidur adalah cukup aneh bahwa depresi juga bisa menyebabkan kebalikan dari insomnia yakni tidur yang berlebihan. Yang lebih mengejutkan lagi bahwa memaksa seseorang tetap bangun di malam hari dapat 'mengobati' depresi.

Terlepas siapa yang menjadi penyebab, insomnia dan depresi akan selalu terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Jika kamu insomnia, kurang istirahat bisa menyebabkan tubuhmu semakin berisiko depresif, sementara sudah kita ketahui bahwa depresi sangat mengganggu aktivitas tidur seseorang. Keduanya sama-sama bisa membuat yang lain semakin memburuk.



Simak Video "NGOBS KUY! Cegah Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)
News Feed