Rabu, 24 Jul 2019 12:39 WIB

Sempat Beredar di Apotek Jabodetabek, Ini Tips Mengenali Obat Palsu

Rosmha Widiyani - detikHealth
Razia obat ilegal di Pasar Pramuka (Foto: Rachman Haryanto) Razia obat ilegal di Pasar Pramuka (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Sebanyak 197 apotek menjadi korban peredaran obat palsu dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT Jaya Karunia Investindo (JKI). PBF disebut menyalahgunakan izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan menjadi distributor obat palsu dari sebuah pabrik di Semarang.

Peredaran obat palsu bukan kasus baru yang sayangnya terus menimbulkan korban. Menurut Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Vincent Harijanto, bukan hal mudah membedakan obat asli dan palsu. Apalagi dengan teknologi yang makin canggih yang memungkinkan obat palsu terlihat sama persis dengan asli, hanya berbeda dalam kandungan zat aktif.

"Agak sulit ya buat konsumen membedakan obat asli dan bukan, karena semua dianggap sama. Harusnya memang dari jalur distribusi dan BPOM yang pengawasannya bisa lebih peka. Tapi memang ada anjuran supaya masyarakat bisa membeli obat yang asli. Tentunya anjuran bisa dilaksanakan bila ada kesadaran dari masyarakat supaya tidak terjebak obat palsu," kata Vincent pada detikHealth.



Berikut anjuran atau tips cermat membeli obat.

1. Perhatikan harga

Konsumen kerap kali terjebak membeli obat palsu karena harga yang lebih murah. Vincent menyarankan konsumen segera waspada bila membeli obat yang harganya terlalu murah, apalagi bila sudah sering membeli atau mengonsumsinya.

"Misal amoxan yang bisa dibeli dengan harga satuan Rp 4-5 ribu. Masyarakat harus curiga bila bisa membelinya dengan harga Rp 1.000 apalagi bagi yang pernah beli sebelumnya. Mungkin ada kandungan yang dikurangi atau tidak ada meski kemasannya terlihat baik. Obat umumnya punya Harga Eceran Tertinggi (HET) sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari standar itu," ujar Vincent.

2. Perhatikan tanggal produksi dan kadaluwarsa

Tanggal produksi dan kadaluwarsa harus terlihat jelas dalam kemasan obat yang akan dibeli konsumen. Jika terlihat samar atau tidak ada, konsumen wajib curiga dan memilih obat dengan cetakan tanggal lebih jelas.

"Seiring waktu, cetakan tanggal produksi dan tanggal kadaluwarsa pada obat palsu memang terlihat baik dan jelas. Namun tak ada salahnya memeriksa tanggal sebelum membeli obat," ujar Vincent.



3. Perhatikan cetakan

Cetakan meliputi seluruh informasi dalam kemasan obat yang akan dibeli masyarakat. Merk, bahan baku, pabrik, lokasi produksi, dan tanggal pemakaian harus terlihat jelas untuk menjamin keamanan konsumsi obat.

"Sama dengan tanggal, cetakan juga makin baik karena produsen obat palsu bisa beli sendiri teknologi mesin cetak dan produksi obat lain. Masyarakat tetap disarankan memeriksa cetakan sebelum membeli obat supaya tidak terjebak produk palsu," kata Vincent.

4. Perhatikan kemasan

Obat harus dalam kondisi terbungkus rapi sebelum dibeli dari apotek atau distributor lain. Masyarakat harus waspada bila kemasan terlihat rusak, tidak rapi, butir obat tidak lengkap, atau kondisi tidak rapi lainnya.

"Kemasan bisa jadi pembeda antara obat asli dan palsu. Pastikan kemasan terlihat rapi sebelum membeli," kata Vincent.



Simak Video "Hati-hati! Obat Penyakit Diabetes Paling Banyak yang Dipalsukan"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)